Kompetensi K3 Kian Dibutuhkan, Peserta Sertifikasi Siap Bangun Budaya Kerja Aman
in ,

Kompetensi K3 Kian Dibutuhkan, Peserta Sertifikasi Siap Bangun Budaya Kerja Aman

Kompetensi K3 Kian Dibutuhkan, Peserta Sertifikasi Siap Bangun Budaya Kerja Aman

Banua Tv,Jakarta – Kesadaran terhadap pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terus meningkat di dunia industri. Hal itu seiring kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan sertifikasi K3 guna menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif.

~ Advertisements ~

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus memperkuat peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui kegiatan Evaluasi Pembinaan dan Sertifikasi Calon Ahli K3 Umum.

Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Kemnaker, Ismail Pakaya, mengatakan kegiatan evaluasi tersebut tidak hanya menjadi proses administratif, tetapi juga bagian penting dalam membangun profesionalisme calon Ahli K3.

“Kegiatan evaluasi ini bukan sekadar proses administratif, tetapi juga memastikan calon Ahli K3 memahami norma dan prinsip K3 agar mampu menjalankan perannya secara profesional dalam menciptakan budaya kerja yang aman dan produktif,” ujar Ismail di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Evaluasi dan sertifikasi Batch 2 tersebut dilaksanakan pada 12–13 Mei 2026 dan diikuti sekitar 2.100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan digelar serentak di sejumlah kota, di antaranya Jakarta, Surabaya, dan Makassar.

Salah satu peserta asal Lamongan, Syibro Ihmi (29), menilai kompetensi K3 kini menjadi kebutuhan penting bagi tenaga kerja yang ingin memasuki dunia industri.

“Untuk memasuki dunia industri diperlukan kompetensi di bidang K3. Karena itu saya mengikuti kegiatan ini agar memahami dan menguasai penerapan K3 di tempat kerja,” ujarnya.

Menurut Syibro, tantangan penerapan K3 di lapangan masih cukup besar, terutama terkait kesadaran pekerja dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) dan menjalankan standar keselamatan kerja.

“Kadang pekerja maunya yang praktis dan tidak mau repot, padahal keselamatan kerja itu sangat penting. Dari pengalaman saya, masih ada tempat kerja yang belum optimal dalam penerapan K3, seperti perlengkapan APD yang belum lengkap,” katanya.

Ia menambahkan, seorang Ahli K3 tidak hanya dituntut memahami aturan dan aspek teknis keselamatan kerja, tetapi juga mampu memberikan edukasi dan membangun budaya keselamatan di lingkungan kerja.

Sementara itu, peserta asal Makassar, Aidil Cahyadi (23), mengaku tantangan terbesar selama mengikuti pembinaan dan evaluasi adalah membagi waktu antara pekerjaan dan proses belajar.

“Namun tantangan tersebut menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar dan berkembang,” ujarnya.

Aidil menilai kegiatan sertifikasi tersebut memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai penerapan keselamatan kerja di dunia industri.

“Kegiatan ini sangat penting karena membantu kami memahami penerapan K3 di tempat kerja, tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga praktiknya secara langsung,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Kemnaker Dorong Masyarakat Bangun Usaha Mandiri lewat Bantuan TKM Pemula 2026

SBK Sasirangan Kenalkan Budaya dan Produk Ramah Lingkungan Kalsel di Ajang Nasional Bali