Pelayanan Kesehatan Remaja Harus Ramah dan Rahasia, Nakes Kalsel Dibekali Kompetensi
in , , , , ,

Pelayanan Kesehatan Remaja Harus Ramah dan Rahasia, Nakes Kalsel Dibekali Kompetensi

Pelayanan Kesehatan Remaja Harus Ramah dan Rahasia, Nakes Kalsel Dibekali Kompetensi

Banua Tv,Banjarmasin – Pelayanan kesehatan bagi anak usia sekolah dan remaja tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga membutuhkan edukasi, deteksi dini, konseling, serta pendekatan yang mampu membangun kepercayaan. Untuk memperkuat layanan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kalsel meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Upaya itu diwujudkan melalui Pelatihan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja bagi Tenaga Kesehatan FKTP Provinsi Kalimantan Selatan yang diselenggarakan di Banjarmasin, Senin (2/11/2026). Kegiatan dibuka Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, didampingi Kepala Bapelkes Kalsel, Abdul Basit.

Diauddin menegaskan, kesehatan anak usia sekolah dan remaja perlu mendapat perhatian serius karena fase tersebut merupakan periode penting dalam pembentukan karakter, kebiasaan, dan perilaku hidup sehat yang dapat memengaruhi kualitas kesehatan hingga dewasa.

Berbagai persoalan kesehatan, seperti anemia, kekurangan gizi, kelebihan berat badan, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, penyalahgunaan zat adiktif, hingga perilaku berisiko, perlu diantisipasi melalui pendekatan promotif dan preventif yang terintegrasi.

“Investasi kesehatan pada usia sekolah dan remaja merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia. Remaja yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki perilaku hidup sehat akan menjadi generasi penerus yang mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional,” ujarnya.

Dalam upaya memperluas akses layanan, fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya Puskesmas, memiliki peran strategis. Selain memberikan pengobatan, Puskesmas juga bertanggung jawab dalam edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, deteksi dini, konseling, dan pendampingan sesuai kebutuhan remaja.

Karena itu, tenaga kesehatan perlu memiliki kompetensi yang memadai untuk memberikan pelayanan sesuai karakteristik kelompok usia tersebut. Pendekatan yang digunakan harus ramah remaja, mudah diakses, menjaga privasi dan kerahasiaan, tidak diskriminatif, serta menghormati hak dan kebutuhan pasien.

“Tenaga kesehatan dituntut memiliki kompetensi yang memadai serta mampu memberikan pelayanan sesuai karakteristik kelompok usia remaja. Pelayanan tersebut harus mengedepankan pendekatan ramah remaja, mudah diakses, menjaga privasi dan kerahasiaan, tidak diskriminatif, serta menghargai hak dan kebutuhan mereka,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali permasalahan kesehatan, melakukan pemeriksaan dan deteksi dini, memberikan konseling serta edukasi, hingga melaksanakan penatalaksanaan awal dan rujukan sesuai standar pelayanan.

Kemampuan berkomunikasi juga menjadi perhatian penting. Menurut Diauddin, tenaga kesehatan perlu menciptakan suasana yang nyaman agar remaja merasa aman untuk menyampaikan persoalan kesehatan yang dihadapi.

“Pendekatan kepada remaja membutuhkan cara tersendiri, dengan membangun suasana nyaman, kepercayaan, serta komunikasi yang terbuka tanpa menghakimi,” jelasnya.

Selain penguatan kapasitas tenaga kesehatan, peningkatan layanan kesehatan remaja membutuhkan dukungan lintas sektor. Kerja sama antara Puskesmas, sekolah, keluarga, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dinilai penting untuk memperluas edukasi serta upaya pencegahan.

Kolaborasi dengan sekolah dapat dilakukan melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, serta kegiatan promotif dan preventif lainnya.

“Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat menjadi penggerak peningkatan pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja di wilayah kerja masing-masing. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh hendaknya diterapkan secara nyata serta dibagikan kepada rekan sejawat,” tegasnya.

Diauddin juga menyampaikan apresiasi kepada SOPHI atas kontribusi dan dukungan dalam peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus dikembangkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi anak usia sekolah dan remaja di Kalimantan Selatan.

Kepada para peserta, ia berpesan agar mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, dan memanfaatkan kesempatan praktik serta pembelajaran dari narasumber maupun fasilitator.

Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan atau sertifikat yang diperoleh, tetapi juga dari penerapan kompetensi dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

“Melalui perhatian yang tepat terhadap kesehatan anak usia sekolah dan remaja hari ini, kita sedang mempersiapkan kualitas generasi penerus di masa depan. Mari bersama-sama membangun generasi muda Kalimantan Selatan yang sehat, tangguh, berkarakter, dan produktif,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

DPKP Kalsel Perkuat Satu Data Pertanian, Perencanaan Pembangunan Jadi Fokus

Sejak 2025 Surati BPJN, Wali Kota Banjarbaru Dorong Penanganan Genangan KM 33,5