Komisi IV DPR RI Minta Mitigasi El Nino Diperkuat demi Jaga Ketahanan Pangan di Kalsel
Banua Tv,Banjarbaru – Potensi terjadinya fenomena El Nino yang diperkirakan memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas sektor pertanian dan peternakan menjadi perhatian utama Komisi IV DPR RI. Kondisi tersebut dinilai harus diantisipasi secara serius mengingat Kalimantan Selatan memiliki peran strategis sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional.

Hal itu disampaikan dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI Masa Sidang V Tahun Sidang 2025–2026 di Balai Veteriner Banjarbaru, Jumat (3/7/2026).
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, mengatakan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan, berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau.
“Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas sektor pertanian dan peternakan. Karena itu diperlukan langkah mitigasi yang cepat, terintegrasi, dan berbasis data,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Kalimantan Selatan sebagai daerah dengan indeks ketahanan pangan tertinggi di Indonesia sekaligus pemasok kebutuhan pangan bagi Pulau Kalimantan dan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadikan upaya mitigasi El Nino semakin penting.
“Oleh sebab itu, dampak El Nino di daerah ini berpotensi memengaruhi ketahanan pangan nasional apabila tidak diantisipasi secara optimal,” ungkapnya.

Komisi IV DPR RI menilai langkah mitigasi di sektor pertanian perlu difokuskan pada penguatan sistem irigasi, pemanfaatan lahan rawa dan lebak, penyediaan benih tahan kekeringan, kecukupan pupuk, hingga penguatan cadangan pangan dan penyerapan hasil panen.
Sementara di sektor peternakan, ancaman kemarau panjang dinilai berpotensi meningkatkan heat stress pada ternak serta memperbesar risiko munculnya Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) dan zoonosis.
Karena itu, Balai Veteriner Banjarbaru dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung deteksi dini penyakit, surveilans, diagnosis laboratorium, serta penguatan sistem biosekuriti.
“Balai Veteriner Banjarbaru memiliki peran yang sangat penting sebagai laboratorium rujukan dalam deteksi dini, diagnosis penyakit, surveillance, serta penguatan biosecurity. Karena itu kapasitas laboratorium, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan hewan harus terus diperkuat,” katanya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan Balai Veteriner Banjarbaru menjadi pusat layanan kesehatan hewan untuk lima provinsi di Kalimantan dan kini didukung 10 laboratorium berstandar ISO/SNI.
“Bahkan, balai tersebut berhasil mengembangkan metode deteksi cepat penyakit surra yang kini diproduksi secara massal oleh Balai Veteriner Pusvetma Surabaya,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi menghadapi dampak El Nino, mulai dari penyediaan hijauan pakan tahan kekeringan, pembangunan lebih dari 800 bank pakan, distribusi obat, vitamin, dan vaksin, hingga penguatan biosekuriti dan pengendalian penyakit hewan.
Selain itu, Kementerian Pertanian juga mendorong dukungan DPR RI dalam penguatan regulasi, peningkatan jumlah dokter hewan, pengembangan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), serta penambahan anggaran pengendalian penyakit hewan strategis.
“Kami meyakini dengan dukungan kebijakan, penganggaran yang kuat, serta sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, pengendalian penyakit hewan dapat berjalan optimal sehingga ketahanan pangan, khususnya protein hewani, tetap terjaga meski menghadapi ancaman El Nino,” pungkasnya.


