Dispar Kalsel Perkuat Promosi Wisata Banua Lewat Workshop Konten Digital
Banua Tv,Banjarmasin – Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat promosi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif melalui pemanfaatan media digital. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar workshop bertajuk “Content Creator dan Copywriting: Penguatan Promosi Pariwisata Melalui Media Digital” di salah satu hotel di Banjarmasin, Selasa (13/5/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 50 peserta yang terdiri dari Putra-Putri Pariwisata dari 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan, pendamping dari Dinas Pariwisata kabupaten/kota, serta organisasi mitra pariwisata seperti PHRI, ASITA, ASTINDO, ASPPI, dan ASPERWI.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel, Iwan Fitriady mengatakan, perkembangan teknologi digital menuntut sektor pariwisata mampu menghadirkan konten visual dan tulisan yang menarik guna meningkatkan minat wisatawan berkunjung ke Kalimantan Selatan.
Menurutnya, promosi menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Karena itu, kita harus memperkuat rekan-rekan di sektor ini agar mampu mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif secara efektif, terutama melalui media digital. Para peserta ini merupakan bagian dari tim untuk memajukan pariwisata Kalsel,” ujarnya.
Selain memperkuat promosi digital, Dispar Kalsel juga berfokus pada pengembangan atraksi wisata di berbagai destinasi guna meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara.
“Pengembangan atraksi akan menjadi salah satu prioritas program kerja kita di tahun 2026, di samping berbagai event yang telah disiapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan agar daya tarik wisata Banua semakin variatif dan berkualitas,” katanya.

Sementara itu, konten kreator sekaligus narasumber workshop, Kahfi menilai keberhasilan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan objek wisata, tetapi juga pemahaman terhadap alasan wisatawan datang berkunjung.
Ia menyebut masih banyak pengelola wisata maupun komunitas lokal yang terlalu fokus menarik kunjungan, namun belum memahami pengalaman dan motivasi wisatawan setelah berada di lokasi wisata.
“Kadang kita terlalu banyak berpikir bagaimana cara orang datang ke tempat kita. Namun ketika mereka datang, kita lupa menanyakan alasan mereka hadir. Padahal alasan itu bisa sangat beragam dan tidak terduga,” ujarnya.
Melalui workshop tersebut, Kahfi mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk membangun pendekatan yang lebih personal dan inklusif dalam pengembangan destinasi wisata.
Menurutnya, budaya lokal dan motivasi wisatawan dapat menjadi kekuatan baru dalam memperkuat daya tarik pariwisata Banua.
“Karena terkadang orang datang ke suatu tempat bukan hanya karena objek wisatanya, tetapi juga karena sosok atau warisan budaya tak benda yang dimiliki daerah tersebut. Hal inilah yang perlu dipahami bersama agar pariwisata kita menjadi lebih inklusif,” pungkasnya.


