Disdik Banjar Pastikan Sekolah Tetap Enam Hari, Madrasah Diniyah Tak Akan Ditinggalkan
in , , , ,

Disdik Banjar Pastikan Sekolah Tetap Enam Hari, Madrasah Diniyah Tak Akan Ditinggalkan

Disdik Banjar Pastikan Sekolah Tetap Enam Hari, Madrasah Diniyah Tak Akan Ditinggalkan

Banua Tv,Banjar – Kekhawatiran orang tua mengenai penerapan Full Day School (FDS) di Kabupaten Banjar mendapat penegasan dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar. Pemerintah daerah memastikan sekolah di bawah kewenangan Pemkab Banjar tetap menerapkan kegiatan belajar selama enam hari dalam sepekan.

~ Advertisements ~

Kepastian tersebut sekaligus memastikan anak-anak tetap memiliki waktu untuk mengikuti pendidikan agama di luar sekolah formal, seperti madrasah diniyah, TPA/TPQ, mengaji maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Kepala Disdik Kabupaten Banjar Hj Liana Penny mengatakan, masyarakat, khususnya orang tua dan pengelola pendidikan keagamaan, tidak perlu resah. Pola enam hari sekolah tetap dipertahankan sehingga anak-anak masih memiliki ruang untuk mengikuti pendidikan agama di luar sekolah formal.

“Sekolah di Kabupaten Banjar tetap enam hari dalam seminggu. Anak-anak tetap memiliki ruang dan kesempatan untuk belajar agama sebagaimana yang selama ini berjalan,” ujar Liana.

Menurut Liana, kebijakan pendidikan harus mempertimbangkan karakter dan kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Banjar yang memiliki tradisi keagamaan kuat. Karena itu, pendidikan formal tidak dapat dipisahkan dari keberadaan lembaga pendidikan agama yang selama ini menjadi bagian dari keseharian anak-anak.

“Kabupaten Banjar memiliki kehidupan keagamaan yang kuat. Pendidikan formal harus berjalan dengan baik, tetapi pendidikan agama anak-anak juga harus tetap mendapatkan ruang,” jelasnya.

Keberadaan pendidikan diniyah, lanjut Liana, juga memiliki peran lebih luas. Selain memperkuat pendidikan agama dan karakter, lembaga tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah dalam menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Bagi anak yang karena berbagai kondisi tidak mengikuti pendidikan formal, pendidikan kesetaraan maupun pendidikan keagamaan dapat menjadi alternatif agar mereka tetap mendapatkan hak atas pendidikan.

“Pendidikan harus bisa menjangkau semua anak. Yang tidak mengikuti pendidikan formal harus kita jemput dan diarahkan kembali melalui satuan pendidikan yang sesuai,” ungkapnya.

Disdik Banjar memandang sekolah formal dan madrasah diniyah bukan sebagai dua sistem yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dinilai memiliki fungsi berbeda yang dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi daerah.

Sekolah formal berperan dalam memberikan penguatan akademik dan kompetensi, sementara madrasah diniyah memperkuat pendidikan agama, akhlak, karakter dan nilai-nilai keagamaan.

“Keduanya sangat dibutuhkan untuk membentuk generasi Banjar yang cerdas sekaligus berakhlak. Karena itu, madrasah diniyah bukan sesuatu yang ingin dikurangi, apalagi dihilangkan. Justru kita melihatnya sebagai mitra strategis dalam membangun karakter anak dan mendukung penuntasan ATS,” tegasnya.

Penegasan tersebut sekaligus menjadi respons terhadap informasi mengenai FDS yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk melalui grup percakapan dan media sosial.

Liana mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang belum disampaikan secara resmi pemerintah. Setiap perubahan kebijakan pendidikan, menurutnya, akan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.

Dalam menentukan kebijakan pendidikan, pemerintah juga perlu memperhitungkan berbagai aspek, mulai dari kebutuhan peserta didik, kondisi sekolah, aspirasi orang tua dan guru, hingga keberadaan pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, Disdik Banjar menempatkan kepentingan anak sebagai dasar utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Tidak hanya mengejar kemampuan akademik, pendidikan juga diarahkan untuk membentuk anak yang memiliki keterampilan, karakter dan fondasi keagamaan.

“Tujuan kita sama, yakni memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak Kabupaten Banjar. Kita ingin mereka cerdas, terampil dan berkarakter, sekaligus memiliki bekal agama dan akhlak yang kuat. Yang terpenting, jangan sampai ada anak kita yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

APBD Banjar 2027 Diproyeksikan Rp2,2 Triliun, DPRD Soroti Jalan hingga PAD

Cegah Kekerasan Seksual Sejak Dini, GOW Balangan Bekali Siswa SMP 3 Paringin