Di Tengah Kemarau dan Kabut Asap, Wali Kota Banjarbaru Bersama ASN Gelar Salat Istisqa
in , , ,

Di Tengah Kemarau dan Kabut Asap, Wali Kota Banjarbaru Bersama ASN Gelar Salat Istisqa

Di Tengah Kemarau dan Kabut Asap, Wali Kota Banjarbaru Bersama ASN Gelar Salat Istisqa

Banua Tv,Banjarbaru – Di tengah kemarau panjang yang berdampak pada kekeringan, kebakaran hutan dan lahan hingga munculnya kabut asap, Pemerintah Kota Banjarbaru menggelar Salat Istisqa secara berjemaah di Lapangan dr. Murdjani, Senin (24/8/2026).

~ Advertisements ~
~ Advertisements ~

Ibadah salat meminta hujan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual pemerintah daerah bersama masyarakat dan jajaran aparatur dalam menghadapi dampak musim kemarau yang mulai mengganggu aktivitas serta kondisi lingkungan di Kota Banjarbaru.

Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru Sirajoni turut mengikuti pelaksanaan Salat Istisqa. Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga non-ASN dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta instansi lainnya juga memadati lapangan.

Salat Istisqa dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarbaru KH Mukhlis Kaspul Anwar yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib.

Dalam khotbahnya, KH Mukhlis menggambarkan kondisi kemarau dan kekeringan yang tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

“Saat ini bumi tempat kita berpijak sedang diuji dengan kemarau panjang. Tanah-tanah mulai retak mencerminkan dahaga, sumber air surut dan menipis, tanaman layu, dan debu kering bertebaran ditiup angin. Kebakaran hutan meluas dan asap menyelimuti bumi. Udara yang kita hirup mengganggu kesehatan, menimbulkan keresahan, hingga mengganggu berbagai aktivitas kehidupan,” ujar Ketua MUI di hadapan ratusan jemaah yang tertunduk khidmat.

Menurutnya, kondisi yang terjadi menjadi pengingat bagi manusia untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan serta sesama.

Ia mengingatkan bahwa tertahannya hujan dan datangnya musibah dapat menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur serta meninggalkan berbagai perbuatan yang tidak baik.

“Musibah kekeringan yang menimpa dan tertahannya tetesan air hujan dari langit ini bisa jadi buah dari kelalaian tangan kita sendiri. Ini semua boleh jadi bersumber dari genangan dosa-dosa yang terus kita tumpuk. Kemaksiatan yang dikerjakan secara terang-terangan serta keengganan kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya,” tegasnya.

Salat Istisqa, menurut KH Mukhlis, bukan sekadar ritual untuk memohon turunnya hujan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ajakan bagi seluruh jemaah untuk membersihkan hati, memperbaiki kualitas ibadah, serta membangun hubungan yang lebih baik antarsesama.

Di akhir khotbah, seluruh jemaah diajak untuk terus menjaga alam, memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berdoa agar kemarau dan kekeringan yang memicu kebakaran dan kabut asap dapat segera berakhir.

Harapan yang dipanjatkan bersama adalah agar kondisi lingkungan kembali membaik dan digantikan dengan curahan hujan yang membawa kesejukan serta rahmat bagi masyarakat.

Pelaksanaan Salat Istisqa tersebut menjadi gambaran ikhtiar bersama Kota Banjarbaru dalam menghadapi dampak kemarau. Selain langkah-langkah penanganan dan mitigasi di lapangan, doa dan refleksi spiritual turut menjadi bagian dari upaya menghadapi situasi yang sedang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Lewat Workshop Gender, Banjarbaru Dorong Perempuan Ambil Peran dalam Pembangunan

Tak Hanya Urusan Kesehatan, Kalsel Susun Strategi Lintas Sektor Tangani Stunting