Tak Hanya Belajar di Kampus, Mahasiswa Ilmu Kelautan ULM Tanam 100 Bibit Mangrove di Angsana
Banua Tv,Tanah Bumbu – Pembelajaran ilmu kelautan tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas. Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (FPIK ULM), menerapkan pengetahuan akademik secara langsung melalui praktik lapang sekaligus aksi pelestarian lingkungan di pesisir Desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu.
Kegiatan yang berlangsung pada 26–29 Oktober 2026 tersebut diisi dengan pengamatan kondisi pesisir dan laut, identifikasi biota, pengukuran parameter perairan, hingga penanaman 100 bibit mangrove jenis Rhizophora sp. bersama warga dan perangkat desa.
Praktik lapang ini merupakan bagian dari proses pembelajaran rutin setiap semester yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap materi perkuliahan melalui pengalaman langsung di lapangan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mempraktikkan penggunaan berbagai peralatan pengukuran untuk mengamati kondisi lingkungan pesisir. Parameter yang diamati antara lain suhu udara, arah dan kecepatan angin, serta profil pantai.
Mahasiswa juga menggunakan perangkap sedimen untuk mempelajari perpindahan material di perairan Angsana. Pengamatan ini membantu mereka memahami proses sedimentasi dan perubahan bentuk pantai, termasuk kaitannya dengan potensi kerentanan pesisir terhadap erosi.
Tidak hanya mempelajari kondisi fisik pantai, mahasiswa juga melakukan identifikasi berbagai jenis biota yang ditemukan di kawasan tersebut. Pengamatan mencakup vegetasi mangrove sejati dan mangrove asosiasi, rumput laut dari kelompok Thallophyta, serta berbagai organisme laut seperti ikan, karang, Gastropoda, Bivalvia, dan kelompok Mollusca lainnya.
Kondisi ekosistem mangrove turut menjadi objek pembelajaran melalui pengambilan data struktur komunitas. Kegiatan ini memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai ekosistem lahan basah, sejalan dengan visi ULM sebagai perguruan tinggi yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis lingkungan lahan basah.
Pengamatan berlanjut ke kawasan laut Desa Angsana. Mahasiswa mempraktikkan pengambilan data parameter fisika dan kimia perairan, meliputi suhu, salinitas, derajat keasaman (pH), dan kadar oksigen terlarut.
Selain itu, mereka mempelajari pengukuran profil kedalaman perairan, pengambilan sampel plankton dan sedimen dasar laut, serta pendataan ekosistem terumbu karang. Dengan menggunakan perlengkapan scuba, mahasiswa turun langsung ke perairan untuk mengamati dan mendata kondisi terumbu karang di bawah pendampingan dosen pengampu mata kuliah.
Rangkaian pengamatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan kondisi parameter perairan dengan kehidupan organisme laut, termasuk memahami berbagai tantangan ekosistem akibat perubahan lingkungan dan iklim.
Sebagai penutup, kegiatan diisi dengan penanaman 100 bibit mangrove jenis Rhizophora sp. yang melibatkan warga dan perangkat Desa Angsana, dosen, serta mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan FPIK ULM.
Penanaman mangrove ini menjadi bentuk keterlibatan langsung sivitas akademika dalam upaya menjaga ekosistem pesisir. Apabila tumbuh dengan baik, akar mangrove dapat membantu menahan sedimen dan meredam energi gelombang sehingga berkontribusi dalam mengurangi risiko abrasi pantai.
Melalui perpaduan pembelajaran lapangan dan aksi lingkungan tersebut, Program Studi Ilmu Kelautan FPIK ULM turut mendukung pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni pendidikan berkualitas (SDG 4), penanganan perubahan iklim (SDG 13), ekosistem laut (SDG 14), dan ekosistem daratan (SDG 15).
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan kompetensi mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Pengetahuan yang diperoleh di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi calon insan keilmuan kelautan untuk berkontribusi dalam pengelolaan dan pelestarian wilayah pesisir.


