Pj Kades Angsana Dorong Kopi Mangrove Karya KKN ULM Berlanjut Jadi Potensi Desa
Banua TV, Tanah Bumbu – Program Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 2 di Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, mendapat apresiasi dari pemerintah desa.


Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah pemanfaatan buah mangrove menjadi kopi alternatif. Bagi Pemerintah Desa Angsana, gagasan tersebut tidak hanya menjadi kegiatan mahasiswa selama menjalankan KKN, tetapi juga membuka peluang baru yang dapat dikembangkan masyarakat setelah program berakhir.
Selama berada di Desa Angsana, 16 mahasiswa Kelompok 2 memperkenalkan sejumlah program berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Selain kopi mangrove, mahasiswa juga mengembangkan pengolahan limbah menjadi pupuk cair, sosialisasi pembuatan dimsum berbahan ikan hingga edukasi pemilahan sampah.
Penjabat Kepala Desa Angsana, Sayid Firdaus, menyampaikan apresiasi terhadap kehadiran mahasiswa dan kontribusi yang diberikan selama berada di tengah masyarakat.
“Kami atas nama Pemerintah Desa Angsana mengucapkan terima kasih kepada fakultas, terkhusus yang telah mendatangkan adik-adik KKN ke wilayah Tanah Bumbu, khususnya di desa kami, Desa Angsana,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Menurut Sayid, program mahasiswa memberikan pengetahuan baru yang cukup dekat dengan potensi lingkungan Desa Angsana. Salah satunya adalah pemanfaatan buah mangrove yang selama ini belum banyak dilihat sebagai bahan produk olahan.
“Dengan adanya kedatangan KKN ini menambah wawasan bagi masyarakat kami. Pertama terkait masalah buah mangrove yang bisa dijadikan kopi. Ini satu pembelajaran bagi masyarakat kami,” kata Sayid.
Bagi pemerintah desa, inovasi tersebut menjadi semakin menarik karena Angsana memiliki kawasan mangrove yang cukup luas. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi sumber manfaat ekonomi masyarakat, selama pemanfaatannya tetap memperhatikan kelestarian ekosistem.
Karena itu, Sayid berharap pengetahuan yang dibawa mahasiswa tidak berakhir bersamaan dengan selesainya masa KKN.
“Dengan adanya ilmu yang diberikan oleh KKN itu nanti bisa bermanfaat dan bisa dilanjutkan untuk digunakan masyarakat kami. Terutama ada inovasi baru yaitu pembuatan kopi dari buah mangrove Angsana tersebut,” tuturnya.
Harapan tersebut membuat inovasi kopi mangrove memiliki arti lebih luas. Produk yang awalnya diperkenalkan sebagai bagian dari edukasi mahasiswa kini mulai dilihat sebagai salah satu alternatif pemanfaatan potensi lokal yang dapat dikembangkan masyarakat.
Namun, pengembangan potensi mangrove tetap harus dilakukan secara bijak. Keberadaan kawasan mangrove tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam menjaga lingkungan pesisir.
Selain potensi produk olahan, Pemerintah Desa Angsana juga melihat peluang pengembangan kawasan wisata. Desa tersebut memiliki pantai, terumbu karang dan kawasan mangrove yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata berbasis lingkungan.
Kehadiran mahasiswa KKN turut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi tersebut sekaligus mendorong masyarakat agar semakin mengenal kekayaan alam yang ada di wilayahnya.
Dalam menjalankan program, mahasiswa juga tidak bekerja sendiri. Mereka melibatkan masyarakat, termasuk pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna.
“Anggota Karang Taruna kami juga berkolaborasi dalam pelaksanaan program dari adik-adik KKN,” kata Sayid.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena program pemberdayaan akan lebih mudah dilanjutkan apabila masyarakat turut terlibat sejak awal. Interaksi mahasiswa dengan warga juga membuat berbagai kegiatan KKN berlangsung dalam suasana yang lebih dekat dan terbuka.
Pemerintah Desa Angsana sendiri memberikan dukungan terhadap keberadaan mahasiswa dengan menyediakan posko berupa rumah dengan lima kamar di RT 1 yang berada tidak jauh dari kantor desa.
Posko tersebut ditempati 16 mahasiswa, terdiri dari enam laki-laki dan 10 perempuan. Pemerintah desa juga menyediakan fasilitas dasar berupa air, listrik dan akses komunikasi untuk menunjang aktivitas mahasiswa selama menjalankan program.
Dukungan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Kehadiran mahasiswa dinilai turut membantu kegiatan desa, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup.
“Kedatangan adik-adik KKN di Desa Angsana dengan masyarakat cukup bagus, cukup antusias. Jadi kami pun senang dengan adanya kedatangan KKN ini, bisa membantu kegiatan kami, terutama di bidang lingkungan hidup,” ujarnya.
Tidak hanya program kerja, interaksi antara mahasiswa dan masyarakat juga meninggalkan kesan tersendiri bagi pemerintah desa.
“Yang paling menarik lagi adalah mereka selalu happy di Angsana dan kami pun dari perangkat desa serta lembaga lainnya juga senang dengan adanya KKN di Desa Angsana,” katanya.
Bagi Pemerintah Desa Angsana, keberhasilan program KKN bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Hal yang lebih penting adalah apakah pengetahuan dan inovasi tersebut dapat diteruskan oleh masyarakat.
Kopi mangrove menjadi salah satu contoh gagasan yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut dengan memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan.
“Karena kami ada kawasan mangrovenya, jadi itu yang akan kami lanjutkan nanti,” pungkas Sayid.
Dengan dukungan pemerintah desa, masyarakat dan pemuda, inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN ULM diharapkan tidak berhenti sebagai program pengabdian sementara. Kopi mangrove dan berbagai gagasan lingkungan lainnya berpeluang menjadi bagian dari upaya Desa Angsana mengembangkan potensi lokal sekaligus menjaga kekayaan alam pesisir.


