in

Pestisida Organik sebagai Solusi Ramah Lingkungan dan Kesehatan

Pestisida Organik sebagai Solusi Ramah Lingkungan dan Kesehatan

Ditulis oleh: Ruri Rabiati (Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat)

~ Advertisements ~
~ Advertisements ~

Pertanian yang Produktif, tetapi Juga Sehat

Ketika masyarakat menikmati sayuran segar, buah-buahan, dan beras di meja makan, jarang terpikir bahwa perjalanan pangan dimulai dari keputusan-keputusan kecil di lahan pertanian. Salah satunya ialah pilihan petani untuk mengendalikan hama. Keputusan ini menentukan bukan hanya keberhasilan panen, melainkan juga biaya usaha tani, kualitas lingkungan, keselamatan pekerja, dan kepercayaan konsumen terhadap pangan.

Pestisida sintetis memberi manfaat nyata apabila digunakan secara tepat: serangan organisme pengganggu tanaman dapat ditekan dan kerugian produksi dapat dibatasi. Namun, penggunaan yang berlebihan, tidak sesuai label, atau tanpa perlindungan memadai dapat meningkatkan paparan bagi pekerja, mencemari lingkungan, serta mengganggu organisme yang justru berguna di lahan. Karena itu, memperdebatkan “kimia atau organik” secara hitam-putih tidak cukup untuk menjawab tantangan pertanian masa kini.

Alternatif yang semakin relevan adalah pestisida organik, terutama pestisida nabati dan pestisida hayati, sebagai bagian dari pengelolaan hama yang lebih bertanggung jawab. Dalam artikel ini istilah pestisida organik digunakan secara populer untuk merujuk pada bahan pengendali hama yang bersumber dari tumbuhan atau agen biologis. Istilah itu tidak otomatis berarti bahwa produk telah memenuhi standar sertifikasi pertanian organik.

Konteks Kalimantan Selatan memberi alasan kuat untuk membahas peralihan tersebut. Sawah pasang surut, rawa lebak, lahan kering, hingga usaha hortikultura memiliki ciri ekologi, hama, musim, dan tata air yang berbeda. Produk pengendali hama yang berhasil pada satu komoditas belum tentu cocok pada lokasi lain. Strategi adopsi karena itu harus dimulai dari kebutuhan petani, bukan sekadar menawarkan resep semprot yang dianggap alami.

Data Sensus Pertanian 2023 dari Badan Pusat Statistik mencatat 452.594 petani pengguna lahan pertanian di Kalimantan Selatan; 197.455 di antaranya termasuk petani gurem. Angka ini memperlihatkan pentingnya teknologi berbiaya terjangkau, terbukti efektif, dan tidak membebani penghidupan petani kecil (BPS, 2023). Pertanyaannya bukan apakah semua pestisida sintetis harus hilang besok, tetapi bagaimana mengurangi ketergantungan yang tidak perlu tanpa mengorbankan ketahanan pangan.

Mengapa Ketergantungan pada Pestisida Perlu Dikaji Ulang?

Penyemprotan terkadang dilakukan menurut kebiasaan kalender, bukan tingkat serangan hama yang benar-benar diamati. Ketika gejala kerusakan tanaman terlihat, solusi tercepat dianggap menambah frekuensi atau dosis. Padahal, setiap aplikasi pestisida memiliki biaya pembelian, tenaga kerja, kemungkinan paparan, serta dampak yang harus diperhitungkan. Dosis lebih tinggi juga tidak serta-merta membuat pengendalian lebih berhasil.

Risiko pestisida bergantung pada sifat bahan aktif, dosis, lama dan jalur paparan, formulasi, serta perilaku penggunaan. Paparan dapat terjadi ketika mencampur larutan, menyemprot tanpa alat pelindung sesuai petunjuk, membersihkan alat, ataupun menyimpan wadah di rumah. Keracunan akut dan gangguan kesehatan akibat paparan tertentu menjadi perhatian kesehatan masyarakat; hubungan dengan penyakit kronis perlu dinilai menurut jenis pestisida dan kualitas bukti epidemiologis, bukan digeneralisasikan kepada semua produk.

Lingkungan pertanian juga merupakan habitat beragam organisme. Air limpasan dapat membawa residu ke saluran, sementara penyemprotan yang tidak selektif berpotensi mengenai musuh alami hama, serangga penyerbuk, atau biota perairan. Pada bentang lahan yang terhubung oleh sungai dan jaringan irigasi, seperti banyak kawasan budidaya di Kalimantan Selatan, pengelolaan pestisida perlu mempertimbangkan dampak di luar petak sawah.

FAO dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pengelolaan pestisida sepanjang siklus hidupnya: mulai dari pemilihan, registrasi, distribusi, penggunaan, penyimpanan, hingga penanganan limbah. Panduan internasional tersebut tidak melarang seluruh pestisida, melainkan menempatkan pengurangan risiko dan pengendalian yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai tujuan utama (FAO & WHO, 2014; WHO, 2021).

Maka, peralihan menuju pestisida berbasis tumbuhan dan mikroorganisme sebaiknya dipahami sebagai bagian dari koreksi cara pengambilan keputusan. Petani perlu mengetahui hama sasaran, waktu tindakan, efektivitas pilihan pengendalian, keamanan pekerja, dan biaya yang ditanggung. Penghematan ekologis tidak akan bertahan bila langkah baru terbukti mahal, sulit digunakan, atau gagal melindungi panen.

Pestisida Nabati dan Hayati: Apa Bedanya?

Pestisida nabati dibuat dari bahan atau senyawa yang berasal dari tumbuhan. Contoh yang banyak dikaji meliputi mimba dengan kandungan azadirachtin, piretrum, serta sejumlah minyak atsiri. Senyawa tersebut dapat bekerja melalui mekanisme berbeda, seperti menghambat aktivitas makan, mengganggu perkembangan serangga, atau memberi efek kontak terhadap organisme sasaran. Keampuhan masing-masing sangat bergantung pada bahan aktif, formulasi, konsentrasi, dan organisme pengganggu yang hendak dikendalikan.

Pestisida hayati memanfaatkan organisme hidup atau hasil aktivitas biologis, misalnya bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) yang digunakan untuk mengendalikan kelompok ulat tertentu, atau cendawan entomopatogen yang menyerang serangga sasaran. Karena mekanisme kerjanya lebih spesifik pada kondisi tertentu, identifikasi hama dan kesesuaian produk sangat menentukan hasil. Istilah “alami” bukan alasan untuk mencampur berbagai ekstrak tanpa standar atau menyemprotkannya sembarangan.

Tinjauan Murray B. Isman dalam Annual Review of Entomology (2020) menunjukkan bahwa insektisida nabati memiliki potensi, terutama di wilayah tropis tempat sumber tumbuhan mudah diperoleh. Namun, tantangan komersialisasinya tidak kecil, seperti konsistensi mutu, stabilitas formulasi, persyaratan registrasi, dan kemampuan bersaing dengan produk lain. Karena itu, hasil uji laboratorium yang menjanjikan tidak otomatis berarti sebuah ramuan siap dipakai secara luas di lahan petani.

Keuntungan yang mungkin diperoleh dari produk yang tepat meliputi pilihan mekanisme kerja baru, peluang mengurangi penggunaan sebagian pestisida sintetis, dan integrasi dengan praktik pengendalian biologis. Sebaliknya, keterbatasannya dapat berupa masa simpan lebih pendek, sensitivitas terhadap hujan atau sinar matahari, daya kerja lebih lambat, serta ketidakkonsistenan bahan baku. Bahkan bahan tumbuhan tertentu dapat bersifat toksik bagi manusia atau organisme non-target.

Oleh sebab itu, petani dan penyuluh sebaiknya mengutamakan produk yang terdaftar untuk penggunaan yang bersangkutan, mempunyai petunjuk aplikasi, dan didukung bukti efektivitas. Pembuatan ekstrak secara mandiri untuk percobaan edukatif tidak boleh disamakan dengan rekomendasi penggunaan komersial yang telah teruji keamanan, kualitas, dan dosisnya.

Manfaat Lingkungan yang Harus Dibuktikan

Harapan terbesar dari adopsi pestisida organik adalah berkurangnya beban lingkungan. Akan tetapi, keberhasilan lingkungan tidak cukup dinilai dari penggantian nama produk di rak toko. Ukurannya harus konkret: apakah jumlah dan tingkat bahaya aplikasi menurun, apakah musuh alami tetap terjaga, apakah kualitas air membaik, dan apakah hasil panen tidak merosot secara merugikan.

Contoh sederhana dapat dibayangkan pada kebun sayuran yang sering terserang ulat. Alih-alih langsung menjadwalkan penyemprotan setiap beberapa hari, petani memeriksa telur, larva, intensitas kerusakan, dan keberadaan predator. Jika serangan masih di bawah ambang tindakan yang ditetapkan berdasarkan kondisi setempat, aplikasi dapat ditunda. Jika sudah diperlukan, petani memilih intervensi paling tepat, termasuk opsi hayati yang memang sesuai untuk hama itu. Dengan cara demikian, jumlah aplikasi yang tidak perlu dapat ditekan.

Langkah penting berikutnya ialah melindungi bentang lingkungan. Jangan menyemprot menjelang hujan lebat atau ketika angin berpotensi membawa butiran semprot ke rumah, kolam, dan perairan. Perhatikan jarak penyangga sesuai label, hindari membuang sisa larutan ke sungai, dan jangan memakai kembali wadah pestisida untuk keperluan rumah tangga. Praktik ini tetap wajib meskipun produk berlabel nabati atau hayati.

Pemantauan lingkungan juga perlu dirancang realistis. Kelompok tani dapat mencatat tanggal aplikasi, jenis bahan aktif, dosis sesuai label, lokasi, cuaca, dan gejala serangan setelah perlakuan. Lembaga riset atau pemerintah daerah dapat melengkapi catatan itu dengan pengujian residu pada sampel air dan tanah serta pengamatan keanekaragaman organisme tertentu. Tanpa data sebelum-sesudah dan pembanding yang layak, klaim “lebih ramah lingkungan” masih berupa dugaan.

Pandangan ini sejalan dengan pengendalian hama terpadu: menggabungkan teknik budidaya, pengamatan, musuh alami, pengendalian fisik, dan pestisida secara selektif untuk menjaga populasi hama pada tingkat yang dapat diterima secara ekonomi. Pestisida organik adalah salah satu alat dalam strategi tersebut, bukan pengganti seluruh pengetahuan agronomi.

Keselamatan Petani dan Kesehatan Konsumen

Kesehatan petani perlu ditempatkan di pusat transformasi pertanian. Pelaku penyemprotan memiliki peluang kontak langsung dengan pestisida, terutama saat menakar, mencampur, dan mengaplikasikan bahan. Perlindungan yang tepat ditentukan oleh label produk serta penilaian risikonya: sarung tangan yang sesuai, pelindung mata atau wajah, pakaian kerja, dan perlindungan pernapasan bila dipersyaratkan. Mengurangi paparan juga berarti menyediakan tempat penyimpanan terkunci yang jauh dari anak-anak dan bahan pangan.

Pestisida organik dapat menjadi bagian dari pengurangan paparan terhadap bahan sintetis tertentu, tetapi tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa semua bahan alam aman disentuh atau dihirup. Ekstrak yang pekat, formulasi dengan pelarut, maupun produk biologis tertentu dapat menimbulkan bahaya tersendiri. Klasifikasi keamanan harus didasarkan pada penilaian bahaya dan paparan, bukan pada apakah bahannya berasal dari tanaman.

Dari sisi konsumen, keamanan pangan terkait dengan penggunaan produk sesuai peruntukan, interval sebelum panen, praktik pencucian dan penanganan pangan, serta kepatuhan terhadap batas residu yang berlaku. Peralihan ke pestisida nabati tidak otomatis membuat hasil panen bebas semua residu atau bebas cemaran. Pengujian dan sistem pengawasan pangan tetap diperlukan agar klaim kesehatan dapat dipercaya.

WHO melalui kumpulan pedoman tahun 2021 menegaskan pentingnya pengelolaan pestisida dari produksi hingga pengelolaan limbah. Pendekatan ini memberi pesan bahwa keselamatan tidak berhenti di ujung alat semprot. Pedagang sarana produksi, produsen, petugas penyuluh, penyedia layanan kesehatan, dan keluarga petani memiliki peran berbeda dalam pencegahan bahaya.

Bagi Kalimantan Selatan, agenda kesehatan dan lingkungan dapat dijalankan bersamaan melalui penyuluhan mengenai gejala dugaan keracunan, prosedur pertolongan pertama sesuai petunjuk medis, pencatatan insiden, dan rujukan ke fasilitas kesehatan. Program semacam itu lebih bermakna daripada kampanye yang sekadar mengganti satu botol dengan botol lain tanpa mengubah perilaku kerja.

Mengapa Petani Belum Tentu Segera Mengadopsi?

Adopsi inovasi bukan hanya persoalan pengetahuan. Petani menilai suatu teknologi berdasarkan manfaat relatif, kecocokan dengan kebiasaan dan kebutuhan, kerumitan, kesempatan untuk mencoba, serta apakah hasilnya dapat diamati. Kerangka difusi inovasi dari Everett Rogers membantu menjelaskan mengapa teknologi yang dianggap baik oleh peneliti belum tentu cepat diterapkan di lapangan (Rogers, 2003).

Bagi petani kecil, risiko gagal panen adalah risiko terhadap pendapatan keluarga. Produk hayati yang kerjanya lebih lambat dapat dipandang kurang meyakinkan apabila dibandingkan dengan produk yang memberikan efek cepat. Petani juga menghadapi ketidakpastian ketersediaan produk, ukuran kemasan, harga per aplikasi, kebutuhan pengulangan semprot, dan kecocokan dengan musim penghujan. Hambatan-hambatan tersebut tidak selesai hanya dengan satu kali sosialisasi.

Dari sisi produsen, tantangan terletak pada standarisasi bahan baku, konsistensi kandungan bahan aktif, teknologi formulasi, registrasi, pelabelan, dan jaringan distribusi. Pasokan yang tidak konsisten dapat membuat petani kehilangan kepercayaan meskipun demonstrasi awal pernah berhasil. Pelaku usaha lokal membutuhkan dukungan pengujian mutu dan akses pasar, bukan sekadar dorongan memproduksi sebanyak mungkin ekstrak tumbuhan.

Karena itu, pendekatan yang rasional ialah demplot atau petak percontohan dengan pembanding. Pada komoditas dan musim yang sama, kelompok tani dapat membandingkan sistem pengendalian biasa dengan paket pengendalian terpadu yang memasukkan pestisida nabati atau hayati bila tepat. Indikatornya meliputi tingkat serangan, hasil panen, frekuensi aplikasi, biaya total, keuntungan, serta keluhan kesehatan pekerja yang dicatat secara etis.

Penyuluh perlu menghindari janji bahwa penggunaan pestisida organik selalu menurunkan biaya. Perbandingan ekonomi harus dihitung berdasarkan total biaya pengendalian selama satu musim dan hasil bersih, bukan harga satu botol saja. Petani kemungkinan lebih bersedia mencoba teknologi ketika risiko transisi diketahui dan pilihan alternatif dapat ditunjukkan dengan angka yang terbuka.

Peluang Penerapan di Kalimantan Selatan

Pertanian Kalimantan Selatan memiliki keragaman sistem usaha tani yang menuntut rekomendasi berbeda. Pengelolaan air pada lahan rawa, akses ke kebun pada musim hujan, pola serangan hama, serta kapasitas usaha tani perlu menjadi pertimbangan sebelum memilih produk. Pada tanaman padi, misalnya, pemantauan organisme sasaran dan pemeliharaan musuh alami dapat menjadi langkah awal sebelum mengambil keputusan penyemprotan. Pada hortikultura, perlindungan produk panen dan frekuensi aplikasi mungkin membutuhkan strategi yang berbeda.

Sebuah program percontohan tingkat kabupaten dapat dimulai dengan memilih beberapa kelompok tani dan komoditas prioritas. Tahap pertama ialah memetakan kebiasaan penggunaan pestisida, biaya, jenis hama, dan masalah paparan. Tahap kedua menyiapkan pelatihan identifikasi hama serta praktik pengendalian terpadu. Tahap ketiga menguji pilihan pestisida nabati atau hayati yang legal dan sesuai kebutuhan pada petak pembanding. Tahap keempat mengevaluasi hasil agronomis, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Pemerintah daerah dapat menghubungkan balai penyuluhan pertanian, perguruan tinggi, laboratorium, organisasi petani, dan pelaku usaha. Kampus berperan membantu rancangan uji dan analisis; penyuluh menjaga kesinambungan pendampingan; pemerintah mendukung pengawasan peredaran dan akses informasi; sedangkan petani menjadi pengambil keputusan utama berdasarkan hasil percobaan lapangan.

Ukuran keberhasilan program sebaiknya tidak terbatas pada jumlah petani yang menerima pelatihan. Ukur pula proporsi petani yang benar-benar menerapkan praktik tepat, perubahan frekuensi aplikasi yang tidak diperlukan, keuntungan bersih, insiden paparan, dan keberlanjutan penggunaan setelah bantuan berakhir. Hasil yang kurang baik pun perlu diumumkan agar pilihan teknologi dapat diperbaiki.

Pendekatan ini sesuai dengan materi pertanian berkelanjutan yang menekankan keterkaitan sumber daya manusia, sumber daya alam, dan lingkungan. Teknologi hanya akan memberi dampak ketika keterampilan petani, perlindungan lingkungan, dan kebijakan pendukung berjalan bersama. Di daerah dengan ragam ekosistem seperti Kalimantan Selatan, keberhasilan sangat ditentukan oleh penyesuaian lokasi dan musim, bukan oleh satu resep seragam untuk semua lahan.

Jalan Tengah untuk Pertanian Masa Depan

Adopsi pestisida organik layak dikembangkan, tetapi tidak sebagai gerakan simbolis mengganti seluruh pestisida sintetis tanpa kajian. Jalan yang lebih kuat adalah pengurangan penggunaan yang tidak perlu, pemilihan produk yang risikonya terkendali, penerapan pengendalian hama terpadu, serta pembuktian manfaat berdasarkan kondisi setempat. Dengan begitu, perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan tidak dipertentangkan dengan kebutuhan petani memperoleh panen yang layak.

Bagi Kalimantan Selatan, agenda prioritasnya mencakup penyuluhan yang konsisten, ketersediaan produk bermutu dan sesuai aturan, petak uji berulang lintas musim, serta pencatatan sederhana yang dapat dilakukan kelompok tani. Dukungan kebijakan hendaknya menilai bukan hanya banyaknya produk yang dibagikan, tetapi apakah teknologi benar-benar menurunkan risiko, mempertahankan produktivitas, dan meningkatkan keuntungan usaha tani.

Pada akhirnya, pertanian yang berkelanjutan bukan pertanian tanpa intervensi, melainkan pertanian dengan keputusan yang cermat. Setiap penyemprotan harus dapat dijawab dengan tiga pertanyaan: apakah memang diperlukan, apakah pilihan ini paling tepat, dan apakah manusia serta lingkungan sudah dilindungi? Dari jawaban itulah perubahan di lahan dapat menjadi kemajuan bagi kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan.

Referensi

Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Sensus Pertanian 2023: Jumlah petani pengguna lahan dan petani gurem menurut wilayah. https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/st2023/215/98808/0

FAO & WHO. (2014). International Code of Conduct on Pesticide Management. https://www.who.int/publications/i/item/9789251085493

FAO. (tanpa tahun). Integrated pest management: Definition. https://faoterm.fao.org/viewEntry.html?entryId=182475&language=en

Isman, M. B. (2020). Botanical insecticides in the twenty-first century—Fulfilling their promise? Annual Review of Entomology, 65, 233–249. https://doi.org/10.1146/annurev-ento-011019-025010

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). Free Press.

World Health Organization (WHO). (2021). Managing pesticides in agriculture and public health: A compendium of FAO and WHO guidelines and other resources (2nd ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240022478

Bahan pemantik: Analisis Keterkaitan Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan dalam Pertanian Berkelanjutan di Indonesia. Materi presentasi yang diberikan penulis, khususnya bagian adopsi teknologi ramah lingkungan (slide 13).

 

Tinggalkan Balasan

Karhutla Dekati Jalur Pipa Utama, PTAM Intan Banjar Tingkatkan Pengamanan

IKAPRI Banjarbaru Bekali Anggota Skill Public Speaking