Gambut Harus Tetap Basah, PUPR Kalsel Kerahkan 20 Pompa Cegah Karhutla
in , , , ,

Gambut Harus Tetap Basah, PUPR Kalsel Kerahkan 20 Pompa Cegah Karhutla

Gambut Harus Tetap Basah, PUPR Kalsel Kerahkan 20 Pompa Cegah Karhutla

Banua Tv,Banjarbaru – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau membuat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memperkuat langkah pencegahan dari sisi tata kelola air. Bukan hanya memadamkan api ketika kebakaran terjadi, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel berupaya menjaga lahan gambut tetap lembap agar tidak mudah terbakar.

~ Advertisements ~
~ Advertisements ~

Strategi tersebut dilakukan melalui pembasahan kawasan rawan karhutla, pengaturan ketinggian muka air serta pemeliharaan infrastruktur tata air seperti saluran irigasi, embung, tabat dan pintu air.

Kepala Dinas PUPR Kalsel, M. Yasin Toyib melalui Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku, Herry Ade Permana, mengatakan upaya pembasahan sebelumnya telah dilakukan di Blok F Tegal Arum. Sementara Blok E dan C juga telah menunjukkan kondisi lebih basah setelah dilakukan pemompaan.

Langkah berikutnya diarahkan ke kawasan Jalan Bandara, khususnya di sekitar SPBU.

“Target kita selanjutnya hari ini adalah mempersiapkan pembasahan di daerah Jalan Bandara, tepatnya di sekitar SPBU,” ujar Herry.

Kawasan tersebut menjadi perhatian karena berada di antara Sungai Kemuning dan jaringan drainase kawasan bandara. Untuk menjaga kelembapan lahan, PUPR Kalsel menyiapkan pembasahan dengan mengombinasikan kisdam atau tabat dan pompa.

“Kita akan melakukan pembasahan dengan beberapa konsep tabat atau kisdam. Dengan pola kisdam dan pompa kombinasi ini, kita mencoba menaikkan elevasi air yang ada di Jalan Bandara,” jelasnya.

Sebanyak 20 unit pompa dompeng disiapkan untuk menyedot dan mengalirkan air ke kawasan yang membutuhkan pembasahan. Sistem tersebut diharapkan dapat menjaga kelembapan lahan secara bertahap hingga kawasan sekitar SPBU dan Masjid Kapal Muzalan.

Upaya menjaga ketersediaan air juga dilakukan di kawasan Guntung Damar. PUPR Kalsel telah melakukan pendalaman dan pemeliharaan embung selama lebih dari satu bulan.

“Embung ini sudah lebih dari satu bulan kita lakukan pendalaman dan pemeliharaan. Tujuannya untuk menyediakan elevasi air yang cukup tinggi sehingga helikopter water bombing bisa mengambil air di embung,” katanya.

Keberadaan embung dengan elevasi air yang memadai diharapkan dapat menjadi sumber air alternatif apabila operasi pemadaman dari udara diperlukan saat terjadi karhutla.

Selain embung, pemerintah juga terus memperkuat sistem retensi melalui pembangunan sejumlah pintu air di kawasan Guntung Damar. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketinggian muka air agar kondisi lahan tidak semakin kering.

Menurut Herry, persoalan pada lahan gambut tidak hanya berkaitan dengan munculnya api, tetapi juga kondisi lahan yang semakin kering akibat turunnya elevasi tanah. Karena itu, menjaga tata air menjadi salah satu kunci pencegahan.

“Karhutla terjadi karena turunnya elevasi tanah yang sangat signifikan, yang mengakibatkan perakaran dan gambut menjadi kering. Ini yang mesti kita jaga dengan sistem tata kelola air yang baik,” terangnya.

Pengelolaan tabat, pintu air, saluran irigasi dan embung secara terpadu diharapkan mampu mempertahankan kelembapan tanah sekaligus mengurangi kerentanan kawasan gambut terhadap kebakaran.

“Dengan adanya beberapa tabat atau pintu air yang kita kombinasikan, tentu akan menjaga kelembaban tanah itu sendiri. Sehingga gambut harus tetap terjaga,” pungkasnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya dilakukan setelah api muncul. Pengaturan air dan pembasahan lahan menjadi bagian penting dari strategi pencegahan agar kawasan gambut tetap lembap selama menghadapi musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Dari Jakarta, Wali Kota Lisa Halaby Tetap Kawal Pelayanan dan Aspirasi Warga Banjarbaru

APBD Kalsel 2027 Diproyeksi Rp8 Triliun, Belanja Daerah Tembus Rp8,6 Triliun