Bukan Sekadar Ambil Sampel, Petugas Kalsel Dilatih Deteksi Masalah Ikan Sejak Dini
Banua Tv,Banjarmasin – Gangguan kesehatan ikan dan buruknya kondisi lingkungan budidaya dapat berdampak langsung terhadap produktivitas pembudidaya. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Provinsi Kalimantan Selatan memperkuat kemampuan petugas yang berada di lapangan.


Penguatan dilakukan melalui Pelatihan Petugas Pengambil Sampel Kesehatan Ikan dan Lingkungan Budidaya yang berlangsung selama tiga hari. Kegiatan teori dilaksanakan di Hotel Jelita Banjarmasin, sementara praktik dilakukan di Jalan Benua Anyar, Kelurahan Benua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin.
Pelatihan diarahkan agar petugas mampu melakukan pengambilan dan penanganan sampel secara tepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari sistem pemantauan untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan sekaligus lingkungan tempat budidaya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan, Rusdi Hartono, mengatakan kemampuan petugas menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan kegiatan budidaya perikanan berjalan dengan baik.
“Pelatihan ini penting untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan petugas dalam melaksanakan pengambilan sampel kesehatan ikan dan lingkungan budidaya secara tepat, akurat, dan sesuai prosedur,” ujar Rusdi di Banjarbaru, Senin (5/10/2026).
Menurut Rusdi, proses pengambilan sampel menjadi tahap penting karena hasilnya dapat digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan ikan dan kualitas lingkungan budidaya.
Data yang diperoleh dari sampel tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengendalian maupun penanganan apabila ditemukan persoalan di lapangan.
“Pengambilan sampel tidak boleh dilakukan sembarangan. Mulai dari teknik pengambilan, penanganan, pengelolaan hingga penerapan prosedurnya harus dilakukan sesuai standar yang berlaku. Ini penting agar hasil pemeriksaan benar-benar dapat menggambarkan kondisi kesehatan ikan dan lingkungan budidaya,” jelasnya.

Penguatan kompetensi petugas juga berkaitan dengan upaya deteksi dini. Dengan kemampuan teknis yang lebih baik, potensi gangguan kesehatan ikan maupun persoalan lingkungan diharapkan dapat diketahui sebelum berkembang dan berdampak lebih luas terhadap produktivitas budidaya.
“Semakin cepat kita mengetahui kondisi kesehatan ikan dan lingkungan budidaya, semakin cepat pula langkah yang bisa dilakukan. Karena itu, petugas di lapangan harus memiliki kemampuan teknis yang memadai,” katanya.
Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari sejumlah unsur dan instansi, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Balai Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan (BPKIL) Serang, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, serta akademisi Universitas Lambung Mangkurat.
Peserta berasal dari Dinas Perikanan dan Balai Benih Ikan (BBI) Lokal Kabupaten/Kota se-Kalimantan Selatan.
Keterlibatan berbagai instansi dan akademisi dinilai penting untuk menyamakan pemahaman petugas mengenai standar pengambilan serta penanganan sampel. Dengan standar yang sama, hasil pemantauan dari berbagai daerah diharapkan dapat lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kolaborasi ini penting. Kita ingin petugas dari kabupaten dan kota memiliki pemahaman yang sama, sehingga pelaksanaan pengambilan sampel di lapangan dapat dilakukan dengan standar yang baik dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.
Tidak hanya mendapatkan materi secara teori, peserta juga mengikuti praktik secara langsung. Melalui praktik tersebut, petugas dilatih menghadapi kondisi lapangan, mulai dari teknik pengambilan hingga penanganan sampel.
Bagi Dislautkan Kalsel, kemampuan tersebut perlu diterapkan setelah peserta kembali menjalankan tugas di daerah masing-masing.
“Pengetahuan yang diperoleh jangan berhenti di ruang pelatihan. Harus diterapkan di lapangan. Kita ingin petugas semakin siap, semakin terampil, dan mampu memberikan dukungan terhadap pembudidaya melalui pemantauan kesehatan ikan dan lingkungan yang lebih baik,” tegas Rusdi.
Menurutnya, pembangunan perikanan budidaya tidak hanya membutuhkan sarana dan prasarana. Kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting agar standar teknis dapat diterapkan secara konsisten.
“Budidaya perikanan yang sehat dan berkelanjutan membutuhkan petugas yang kompeten. Dengan peningkatan kapasitas SDM, kita berharap produktivitas budidaya semakin baik, risiko dapat ditekan, dan sektor perikanan Kalsel semakin berdaya saing,” pungkas Rusdi.
Melalui penguatan kapasitas petugas tersebut, Dislautkan Kalsel berupaya membangun sistem pemantauan yang lebih baik terhadap kesehatan ikan dan kondisi lingkungan budidaya. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung produktivitas pembudidaya sekaligus menjaga keberlanjutan sektor perikanan di Kalimantan Selatan.


