Mahasiswa ULM Raih Juara 3 LADC 2026, Soroti Gentrifikasi dan Pelestarian Lahan Basah
Banua Tv,Banjarmasin – Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Muhammad Rizal Irfani, meraih juara 3 dalam LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026. Prestasi tersebut diraih melalui karya The Urban Stitch of Prawirotaman Village yang mengangkat persoalan gentrifikasi dan upaya mempertahankan identitas lokal di tengah perkembangan pariwisata.


Kompetisi yang digelar pada 4 Agustus 2026 di Showroom LIXIL Indonesia, Jakarta, ini diselenggarakan oleh LIXIL Water Technology Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia. Mengusung tema “Archipelago Dialogues”, LADC 2026 mengeksplorasi hubungan arsitektur dengan lingkungan, budaya, kondisi geografis, serta dinamika sosial-politik.
Diikuti 86 pendaftar dari kategori mahasiswa di seluruh Indonesia, kompetisi ini menjadi ruang bagi peserta untuk menawarkan gagasan desain yang menjawab persoalan nyata. Bersama rekan satu timnya, Rizal mengangkat kondisi Kampung Prawirotaman di Yogyakarta yang mengalami perubahan fisik, sosial, dan ekonomi seiring berkembangnya sektor pariwisata.
Melalui The Urban Stitch of Prawirotaman Village, tim Rizal berupaya menghubungkan kembali kehidupan masyarakat dengan ruang publik, peluang ekonomi, serta tradisi membatik sebagai identitas lokal. Pendekatan tersebut menempatkan arsitektur sebagai salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan kehidupan kampung di tengah perubahan kawasan.
Selain meraih juara 3, Rizal juga terlibat dalam karya Kalang: Wetland Pastoral Research Center yang berhasil masuk lima besar. Berbeda dari karya sebelumnya, rancangan ini berfokus pada pengembangan pusat penelitian peternakan yang menyesuaikan karakter lahan basah.
Gagasan tersebut terinspirasi dari tipologi kalang hadangan, yakni kandang kerbau rawa yang menjadi bagian dari kearifan lokal Kalimantan Selatan. Rancangan ini diarahkan untuk mendukung pelestarian populasi kerbau rawa sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Bagi Rizal, mengikuti kompetisi arsitektur bukan semata-mata untuk mengejar penghargaan, melainkan juga kesempatan memperluas wawasan dan memahami persoalan di masyarakat. Ia menilai pemahaman terhadap ketentuan lomba, riset mendalam sejak tahap awal, serta kerja tim yang terarah menjadi bagian penting dalam menghasilkan rancangan yang mampu menjawab kebutuhan secara berkelanjutan.
“Setiap kompetisi selalu membawa saya pada hal-hal yang belum familiar. Namun, bagi saya, itu justru menjadi kesempatan untuk mempelajari keilmuan baru yang tidak selalu didapatkan di perkuliahan,” ungkap Rizal dalam wawancara bersama tim Humas ULM.
Ia juga menyampaikan bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan Program Studi Arsitektur, termasuk pendampingan dosen dalam proses riset dan pengembangan konsep. Dukungan fakultas dan universitas berupa akomodasi perjalanan bagi finalis yang mengikuti kompetisi secara luring turut membantu keikutsertaannya.
Ke depan, Rizal berharap semakin banyak mahasiswa ULM, khususnya dari Program Studi Arsitektur, berani mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, ajang tersebut dapat menjadi ruang untuk bertukar gagasan, mempelajari karya dari perguruan tinggi lain, sekaligus memperkenalkan potensi lokal Kalimantan Selatan kepada khalayak yang lebih luas.
Capaian ini menunjukkan bagaimana gagasan arsitektur dapat menjadi ruang untuk membahas tantangan sosial, mempertahankan identitas budaya, dan mendukung pelestarian lingkungan. Melalui karya-karyanya, Rizal membawa persoalan kampung perkotaan dan karakter lahan basah ke dalam diskusi desain arsitektur di tingkat nasional.


