BRIDA Kalsel Usulkan Kebun Raya Banua Jadi Miniatur Geopark Meratus dan Pusat Edukasi UNESCO
Banua Tv,Banjarbaru – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan mendorong penguatan peran Kebun Raya Banua sebagai pusat interpretasi sekaligus miniatur Geopark Meratus dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengembangan Geopark Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp).

Usulan tersebut disampaikan Kepala BRIDA Provinsi Kalimantan Selatan, Thaufik Hidayat, saat mengikuti Ekspose Rencana Induk Pengembangan Geopark Meratus di Ruang Syahrir, Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru, Rabu (8/7/2026).
Dalam pemaparannya, Thaufik menjelaskan BRIDA telah mendapatkan sejumlah tugas dalam rancangan master plan, terutama yang berkaitan dengan inventarisasi, identifikasi, dan dokumentasi artefak serta peninggalan sejarah di kawasan Geopark Meratus.
Beberapa kajian yang menjadi tanggung jawab BRIDA meliputi penelitian Situs Arkeologi Pulau Sirang di Kabupaten Banjar dan Gua Liang Bangkai di Kabupaten Tanah Bumbu.
Pada tahun 2026, BRIDA juga memprioritaskan penelitian kronologi lukisan prasejarah di Gua Liang Bangkai untuk mengetahui usia artefak yang ada di dalamnya. Kajian tersebut dilakukan bersama para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan rencana pengujian laboratorium di Australia.
Selain itu, BRIDA juga menyiapkan penelitian mengenai keragaman motif sasirangan di Kampung Tradisional Sasirangan Kota Banjarmasin serta potensi tumbuhan penghasil pewarna alami sasirangan di Desa Balangan, Kabupaten Banjar.
Meski demikian, Thaufik menilai peran BRIDA dalam dokumen rencana induk masih didominasi kegiatan penelitian. Menurutnya, terdapat potensi lain yang dapat dioptimalkan melalui pengembangan Kebun Raya Banua.
“Kami siap mendukung pengembangan Geopark Meratus melalui tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yaitu konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Peran BRIDA tidak hanya sebatas riset, tetapi juga dapat diperkuat melalui fungsi Kebun Raya Banua sebagai pusat pembelajaran dan interpretasi Geopark Meratus,” ujarnya.
Ia menjelaskan Kebun Raya Banua memiliki peluang besar menjadi pintu masuk atau miniatur Geopark Meratus yang memperkenalkan kekayaan geologi, hayati, dan budaya kawasan Meratus kepada masyarakat sebelum berkunjung langsung ke lokasi-lokasi geopark.
Menurutnya, kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai pusat konservasi flora Meratus melalui koleksi tumbuhan endemik Kalimantan, bank plasma nutfah daerah, hingga konservasi ex-situ bagi spesies langka.

Di sisi lain, Kebun Raya Banua juga dinilai mampu menjadi pusat penelitian biodiversitas, meliputi inventarisasi flora Meratus, kajian vegetasi, penelitian tanaman obat, hingga tumbuhan khas Pegunungan Meratus.
Pada aspek edukasi, kawasan ini berpotensi mendukung pengembangan eduwisata, interpretasi alam, sekolah lapang konservasi, dan peningkatan literasi lingkungan bagi masyarakat.
Tak hanya itu, Kebun Raya Banua juga dapat difungsikan sebagai pusat restorasi ekosistem melalui penyediaan bibit tumbuhan lokal, rehabilitasi kawasan, hingga pemulihan habitat di wilayah Geopark Meratus.
Di sektor pariwisata, BRIDA turut mengusulkan pengembangan scientific tourism seperti Botanical Garden Tour, geobotany trail, serta wisata edukasi berbasis riset dan konservasi guna memperkuat daya tarik Geopark Meratus sebagai destinasi pendidikan.
“Kebun Raya Banua dapat menjadi pusat interpretasi biodiversitas Meratus sekaligus mendukung penelitian nasional maupun internasional. Ini juga dapat menjadi lokasi pembelajaran bagi peneliti, mahasiswa, pelajar, hingga wisatawan. Jadi, masyarakat yang belum memiliki kesempatan mengunjungi kawasan Geopark Meratus secara langsung tetap dapat memperoleh gambaran utuh mengenai kekayaan kawasan tersebut melalui Kebun Raya Banua,” pungkasnya.
BRIDA berharap usulan tersebut dapat menjadi bagian dari penyempurnaan Rencana Induk Pengembangan Geopark Meratus sehingga mampu mengoptimalkan kontribusi seluruh perangkat daerah dalam memperkuat status Geopark Meratus sebagai UNESCO Global Geopark sekaligus mengimplementasikan tiga pilar utama UNESCO, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.


