ULM Dorong Hilirisasi Kopi Kalimantan Lewat Teaching Factory dan Grandis Café
Banua TV, Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memperkuat langkah hilirisasi kopi Kalimantan dengan meresmikan Lambung Mangkurat Teaching Factory Coffee & Roastery dan Grandis Café & Bakery di Kampus ULM Banjarbaru, Jumat (11/9/2026).


Peresmian yang dilakukan langsung oleh Rektor ULM, Prof. Dr. Ahmad, S.E., M.Si., tersebut menjadi bagian dari upaya universitas mengoptimalkan pemanfaatan aset sekaligus mengembangkan unit usaha komersial yang terhubung dengan pendidikan, riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pejabat di lingkungan ULM, perwakilan Dinas Perkebunan, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Kakanwil DJKN), komunitas petani kopi, serta sejumlah mitra kerja sama ULM.

Dalam sambutannya, Prof. Ahmad mengatakan Kalimantan memiliki kondisi agroekologi yang beragam dan berpotensi menghasilkan berbagai jenis kopi, khususnya Robusta, Liberika, Excelsa, bahkan Arabika.
Menurutnya, tantangan pengembangan kopi bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana meningkatkan nilai tambah dari sektor hulu hingga hilir.
Kopi yang dihasilkan petani diharapkan tidak berhenti sebagai green bean, tetapi dapat diolah menjadi roasted bean, kopi bubuk, hingga berbagai produk minuman yang dapat dinikmati konsumen melalui Grandis Café.

“Sebagai contoh adalah kopi Robusta yang saat ini bisa kita saksikan bersama, bahwa jika dilakukan dengan pengolahan yang baik, maka akan memperoleh nilai komersil yang jauh lebih besar. Karena itu, diperlukan ekosistem yang menghubungkan petani, teknologi, perguruan tinggi, industri, pasar, dan konsumen,” ujar Prof. Ahmad.
Menurutnya, penguatan ekosistem tersebut penting agar potensi kopi Kalimantan dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi berbagai pihak yang terlibat.
Sebagai perguruan tinggi, ULM juga ingin memastikan inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada konsep, tetapi dapat diterapkan dan memiliki nilai ekonomi.

Dalam konteks tersebut, Teaching Factory Coffee & Roastery diharapkan menjadi laboratorium nyata bagi sivitas akademika ULM.
Mahasiswa dapat belajar secara langsung mengenai berbagai tahapan pengembangan produk kopi, mulai dari proses pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran.
Fasilitas tersebut juga diarahkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan ULM dengan pemerintah, petani, UMKM, dunia usaha, dan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, proses pembelajaran diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan usaha dan pemanfaatan teknologi.
Prof. Ahmad berharap Lambung Mangkurat Teaching Factory Coffee & Roastery dapat berkembang melampaui fungsi sebagai unit usaha universitas.

“Saya berharap Lambung Mangkurat Teaching Factory Coffee & Roastery tidak berhenti sebagai sebuah unit usaha, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran, riset, inovasi, dan hilirisasi kopi Kalimantan. Serta Grandis Café & Bakery diharapkan menjadi salah satu brand usaha ULM yang profesional dan berkelanjutan, bukan hanya menjual kopi dan makanan, tetapi membawa pesan bahwa kampus juga dapat menjadi tempat lahirnya produk, inovasi, dan bisnis,” tutur Prof. Ahmad menutup sambutannya.
Teaching Factory dan Grandis Café dikelola oleh Badan Pengelola Usaha Universitas Lambung Mangkurat (BPU ULM), yakni unit kerja strategis di lingkungan ULM yang bertugas mengelola, mengembangkan, dan mengoptimalkan berbagai aset serta unit bisnis komersial milik universitas.
Peresmian dua unit tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan kopi Kalimantan.

Ekosistem yang dibangun tidak hanya berorientasi pada produk akhir, tetapi juga menghubungkan petani, teknologi, perguruan tinggi, industri, pasar, dan konsumen.
Melalui Teaching Factory Coffee & Roastery dan Grandis Café & Bakery, ULM menempatkan pengembangan kopi sebagai bagian dari proses pendidikan sekaligus peluang inovasi dan bisnis.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya ekosistem usaha kopi Kalimantan yang lebih kuat, sehingga potensi komoditas lokal dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah sekaligus menjadi sumber pembelajaran dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi.


