ULM Bawa Isu Lahan Basah Kalimantan Selatan ke Forum Internasional, Ini Targetnya
Banua Tv,Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ingin isu lahan basah tidak berhenti sebagai bahan diskusi akademik. Perguruan tinggi tersebut mendorong riset dan gagasan mengenai ekosistem lahan basah Kalimantan Selatan menghasilkan karya yang mampu membawa potensi daerah ke tingkat internasional.


Komitmen itu ditegaskan dalam The Joint International Conference INTAN–HANDIL 2026 yang digelar Fakultas Pertanian bersama Fakultas Teknik ULM pada 7–8 Oktober 2026 di Banjarbaru dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.
Konferensi tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, praktisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan pertanian lahan basah dan infrastruktur dataran rendah.
Pembukaan INTAN–HANDIL 2026 berlangsung di Grand Qin Hotel Banjarbaru, Rabu (7/10/2026). Rektor ULM, Dr. Iwan Aflanie, dr., M.Kes., Sp.F., SH, hadir bersama sejumlah pemangku kepentingan daerah maupun pusat atau yang mewakili, di antaranya perwakilan Koordinator Bidang Pangan RI dan Pekerjaan Umum, Wakil Bupati Hulu Sungai Utara, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, serta para keynote speaker dari berbagai universitas di sejumlah negara.
Bagi ULM, forum tersebut memiliki arti lebih dari sekadar pertemuan ilmiah. Lahan basah dipandang sebagai bagian dari karakter Kalimantan Selatan sekaligus bidang yang dapat menjadi keunggulan akademik ULM.
“ULM sangat berbangga atas terselenggaranya INTAN–HANDIL. Ini merupakan jati diri ULM dan Kalimantan Selatan. INTAN–HANDIL mencerminkan filosofi dan kekuatan kita dalam mengembangkan potensi lahan basah,” ujarnya.
Karena itu, Rektor berharap forum internasional tersebut tidak berhenti setelah konferensi berakhir. Hasil penelitian dan gagasan yang lahir dari pertemuan tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam karya ilmiah dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi Kalimantan Selatan kepada dunia.
“Forum ini tidak akan berhenti pada kegiatan ini saja. Kita mengharapkan ada output atau karya ilmiah, baik dari hasil riset maupun lainnya. ULM go international. Banyak jalan yang dapat kita temukan untuk membawa gagasan dan potensi Kalimantan Selatan ke tingkat global,” katanya.
Menurut Rektor, isu lahan basah memiliki keterkaitan kuat dengan kondisi Kalimantan sekaligus Indonesia. Karena itu, ULM ingin menjadikan lahan basah bukan hanya sebagai objek kajian, tetapi sebagai bagian dari identitas dan keunggulan institusi.
“Lahan basah bukan hanya sekadar sesuatu yang sering didiskusikan, tetapi harus dijiwai oleh ULM. Maka kami (ULM) mengedepankan keunggulan dalam ekosistem lahan basah,” tegasnya.
Tantangan pemanfaatan lahan juga menjadi perhatian dalam konferensi tersebut, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Dekan Fakultas Pertanian ULM, Prof. Akhmad Rizalli Saidy, S.P., M.Agr.Sc., Ph.D, menekankan masih terdapat lahan yang tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi tersebut membutuhkan inovasi dan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan agar potensi lahan dapat dikembangkan secara tepat. Di titik inilah forum akademik internasional diharapkan tidak hanya menghasilkan pertukaran gagasan, tetapi juga membuka peluang lahirnya solusi berbasis riset.
Penyelenggaraan INTAN–HANDIL 2026 sekaligus memperkuat posisi ULM dalam mengembangkan kajian lahan basah dan infrastruktur dataran rendah. Dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi dan pemangku kepentingan dari dalam maupun luar negeri, ULM berupaya memperluas jejaring sekaligus membawa persoalan lokal ke ruang diskusi global.
Bagi Kalimantan Selatan, langkah tersebut membuka peluang agar potensi lahan basah tidak hanya dikenal sebagai karakter geografis daerah, tetapi juga berkembang menjadi sumber pengetahuan, inovasi, dan solusi pembangunan yang dapat diperkenalkan ke tingkat internasional.

