Lomba Mading 3D Museum Wasaka Berakhir, SMAN 7 Banjarmasin Raih Juara Pertama
in , , ,

Lomba Mading 3D Museum Wasaka Berakhir, SMAN 7 Banjarmasin Raih Juara Pertama

Lomba Mading 3D Museum Wasaka Berakhir, SMAN 7 Banjarmasin Raih Juara Pertama

Banua Tv,Banjarmasin – Lomba Edukatif Kultural Mading Tiga Dimensi (3D) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) resmi berakhir. Kompetisi tersebut diikuti 16 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB yang menampilkan karya mading bertema sejarah revolusi fisik di Kalimantan Selatan.

~ Advertisements ~

Kepala Disdikbud Kalimantan Selatan, Abdul Rahim, melalui Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman, Arry Risfansyah, mengapresiasi antusiasme dan kreativitas seluruh peserta selama mengikuti perlombaan.

“Alhamdulillah, lomba tahun ini telah terlaksana sesuai dengan capaian yang kita inginkan. Dari 16 sekolah yang mengikuti, baik SMA, SMK, maupun SLB, semuanya telah memberikan perwakilan,” ujar Arry di Banjarmasin, Kamis (23/7/2026).

Menurut Arry, tingginya antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka saat mengikuti pengarahan maupun berdiskusi dengan dewan juri mengenai sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan.

“Rata-rata peserta tahun ini tidak mengalami kesulitan berarti. Mereka justru aktif bertanya terkait sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan,” katanya.

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Juri Nomor 122/Juri/CBM/Disdikbud/2026, SMAN 7 Banjarmasin berhasil meraih Juara I dengan nilai 800. Posisi Juara II diraih SMA Frater Don Bosco Banjarmasin dengan nilai 750, sedangkan Juara III diraih SMAN 2 Banjarmasin dengan nilai 660.

Untuk kategori juara harapan, SLBN 3 Banjarmasin meraih Juara Harapan I dengan nilai 495, disusul SMAN 1 Mandastana sebagai Juara Harapan II dengan nilai 480, dan SMAIT Ukhuwah Banjarmasin sebagai Juara Harapan III dengan nilai 470.

Arry berharap karya mading tiga dimensi yang telah dibuat para peserta tidak berhenti sebagai hasil lomba semata, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sejarah di sekolah masing-masing.

“Kita mengharapkan kreativitas mereka dalam mengenal sejarah tidak berhenti sampai di sini saja. Karya mading tiga dimensi yang mereka buat juga bisa dibawa ke sekolah untuk disampaikan kepada teman-teman yang lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan, langkah tersebut diharapkan mampu memperluas pemahaman generasi muda terhadap sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan melalui media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif.

Dalam proses penilaian, panitia menghadirkan tiga dewan juri, yakni sejarawan Wajidi, jurnalis dan komunikator Budi Kurniawan, serta praktisi artistik M. Syahril M. Noor.

Syahril M. Noor menilai karya para peserta menunjukkan kreativitas yang baik meski sebagian masih menghadapi kendala teknis.

“Ada peserta yang sudah memahami sejarah dengan baik, tetapi ada juga yang masih mengalami kesulitan karena baru pertama kali mengikuti lomba,” jelasnya.

Sementara itu, sejarawan Wajidi menilai beberapa karya masih perlu penyempurnaan agar lebih sesuai dengan konteks sejarah yang diangkat, baik dari sisi penggunaan foto, alur cerita, maupun penyajian materi.

Menurutnya, penilaian tidak hanya berfokus pada ketepatan sejarah, tetapi juga mempertimbangkan kreativitas, keunikan, serta kemampuan peserta menyampaikan pesan melalui media mading tiga dimensi.

Juri lainnya, Budi Kurniawan, mengapresiasi upaya para peserta dalam mengemas sejarah menjadi media komunikasi yang menarik bagi generasi muda.

“Menyampaikan sejarah lewat mading tiga dimensi tidak mudah. Cerita sejarah itu kompleks, sementara medianya terbatas. Dibutuhkan kedetailan dan kreativitas. Namun, ini merupakan langkah luar biasa karena anak muda belajar berkomunikasi dan menyampaikan sejarah dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Debut Manis SLB Negeri 3 Banjarmasin di Lomba Mading 3D Museum Wasaka, Raih Juara Harapan 1

DKP3 Balangan Lakukan Surveilans Kesehatan Ternak untuk Deteksi Dini Penyakit