Guru dan Kepala SMK Jadi Garda Terdepan Tangkal Radikalisme di Kalangan Pelajar
Banua Tv,Banjarmasin – Peran guru dan kepala sekolah dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah masuknya paham radikalisme ke lingkungan pendidikan. Karena itu, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kalimantan Selatan mengajak seluruh kepala SMK negeri di daerah untuk memperkuat deteksi dini terhadap potensi penyebaran paham radikal di kalangan pelajar.

Pesan tersebut disampaikan Plt Kepala Bakesbangpol Kalimantan Selatan melalui Kepala Subbidang Penanganan Konflik, Israjuddin, saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Kegiatan Peserta Didik dan Pembangunan Karakter di Banjarmasin, Jumat (5/6/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti seluruh kepala SMK Negeri se-Kalimantan Selatan tersebut, Israjuddin membawakan materi bertajuk Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Radikalisme di Provinsi Kalimantan Selatan.
“Peran sekolah sangat strategis dalam membentuk karakter peserta didik agar memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, sikap toleran, serta kemampuan berpikir kritis sehingga tidak mudah terpengaruh oleh propaganda dan paham radikal,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah pola penyebaran paham radikal. Kelompok-kelompok tertentu kini memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyebarkan ideologi mereka, termasuk dengan menyasar generasi muda dan pelajar.

Karena itu, literasi digital menjadi salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki siswa agar mampu memilah informasi dan terhindar dari konten yang mengandung unsur intoleransi maupun ekstremisme.
Israjuddin menegaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai agen deteksi dini yang mampu mengenali perubahan perilaku siswa yang mengarah pada sikap intoleran, eksklusif, atau penolakan terhadap nilai-nilai kebangsaan.
“Pencegahan harus dilakukan melalui penguatan nilai Pancasila, moderasi beragama, pendidikan karakter, serta pembiasaan sikap saling menghormati dalam kehidupan sekolah. Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan kondusif bagi tumbuhnya generasi yang cinta tanah air,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa upaya pencegahan radikalisme membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, media hingga keluarga.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber dari Densus 88 Antiteror Polri yang memberikan pemahaman mengenai kebijakan anti-radikalisme dan langkah-langkah pencegahan di lingkungan pendidikan.
Melalui rapat koordinasi ini, para kepala sekolah diharapkan mampu memperkuat program pembangunan karakter di sekolah sekaligus membangun sistem pencegahan yang efektif agar lingkungan pendidikan tetap aman dari pengaruh paham radikal.


