Disdikbud Kalsel Siapkan Empat Langkah Strategis Pulihkan Indeks Pembangunan Kebudayaan
Banua Tv,Banjarbaru – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan dan masih berada di bawah rata-rata nasional.

Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2024–2025, nilai IPK Kalimantan Selatan tercatat sebesar 29,5 poin, sementara rata-rata nasional mencapai 31 poin. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah melakukan berbagai upaya percepatan pembangunan kebudayaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kalsel, Eddy Suwarto, menjelaskan terdapat tiga dimensi yang masih menjadi tantangan utama dalam peningkatan IPK, yakni ekonomi budaya, ekspresi budaya, dan pendidikan.
“Berdasarkan data tahun sebelumnya, ada tiga dimensi yang poinnya masih kurang, yaitu dimensi ekonomi budaya, dimensi ekspresi budaya, dan dimensi pendidikan,” ujar Eddy di Banjarbaru, Selasa (2/6/2026).
Sebagai tindak lanjut, Disdikbud Kalsel merumuskan empat strategi utama. Langkah pertama adalah penguatan kelembagaan melalui pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah yang akan memberikan masukan strategis kepada pemerintah daerah terkait pengembangan seni dan budaya.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan peningkatan status museum daerah dari Tipe B menjadi Tipe A guna memperkuat tata kelola dan kualitas layanan kebudayaan.
Langkah kedua difokuskan pada penguatan kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan sekolah, mahasiswa, komunitas seni, hingga Badan Pengelola Geopark Meratus. Salah satu program yang disiapkan adalah pembentukan Geopark Corner sebagai ruang kolaborasi dan diskusi bagi pelaku budaya.
“Kita juga akan berkolaborasi dengan Badan Pengelola Geopark Meratus dan menyiapkan Geopark Corner sebagai wadah para pegiat seni dan budaya bertukar pikiran agar program yang kita siapkan bisa berjalan secara inklusif,” katanya.
Strategi berikutnya adalah revitalisasi museum guna meningkatkan kualitas fasilitas dan menarik kembali minat masyarakat untuk berkunjung. Upaya ini dinilai penting mengingat angka kunjungan museum di Kalimantan Selatan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, langkah keempat berupa pembangunan Banua Culture Hub serta penyusunan ensiklopedia budaya berbasis data spasial yang akan menjadi pusat ekspresi budaya sekaligus memperkuat basis data pelaku seni dan lembaga kebudayaan.
Eddy menegaskan bahwa pembangunan kebudayaan tidak dapat hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan komunitas budaya.
“Esensinya adalah inklusivitas dan keberlanjutan. Kita akan melakukan refocusing kegiatan yang sebelumnya bersifat eksklusif menjadi program yang merangkul semua elemen. Kami berharap pemicu perkembangan budaya lahir dari bawah. Jika tidak tumbuh dari bawah, maka tidak akan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui penguatan kolaborasi, pembenahan kelembagaan, revitalisasi fasilitas budaya, serta keterlibatan masyarakat secara luas, Disdikbud Kalsel optimistis nilai Indeks Pembangunan Kebudayaan dapat meningkat sekaligus memperkuat identitas budaya Banua di masa mendatang.


