Dinkes Kalsel Perkuat Konseling Pasien TB RO untuk Tingkatkan Keberhasilan Pengobatan
Banua Tv,Banjarmasin – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan memperkuat upaya pengendalian Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pendamping dalam memberikan konseling serta dukungan psikososial kepada pasien.


Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Konseling Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) bagi Tenaga Kesehatan dan Pendamping TB RO Tingkat Provinsi Tahun 2026. Pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendampingan, terutama dalam membantu pasien memulai dan menjalani pengobatan hingga tuntas.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin, mengatakan TB RO masih menjadi tantangan dalam pengendalian tuberkulosis, baik secara nasional maupun di Kalimantan Selatan.
“Sejak tahun 2009, pengendalian TB RO telah dilaksanakan. Namun, jumlah pasien yang ditemukan terus meningkat dan yang menjadi perhatian kita adalah belum seluruh pasien yang ditemukan langsung memulai pengobatan,” ujar Diauddin di Banjarmasin, Selasa (8/9/2026).
Ia menyampaikan, berdasarkan data tahun 2026, terdapat 87 pasien TB RR/MDR yang ditemukan. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 75 persen yang telah memulai pengobatan. Artinya, masih terdapat sekitar 25 persen pasien yang belum memulai terapi.

Menurut Diauddin, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian TB RO tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat dan layanan kesehatan, tetapi juga kesiapan pasien dalam menjalani pengobatan secara konsisten.
“Masih adanya pasien yang belum memulai pengobatan menunjukkan bahwa kita menghadapi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan akses layanan, tetapi juga faktor psikososial. Ada pasien yang takut terhadap efek samping obat, mengalami persoalan ekonomi, kurang mendapatkan dukungan emosional, atau belum memahami pentingnya menjalani pengobatan sampai selesai,” jelasnya.
Karena itu, penguatan konseling dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk membantu pasien menghadapi berbagai hambatan selama proses pengobatan. Tenaga kesehatan dan pendamping diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik agar pasien merasa didukung dan dipahami.
“Karena itu, konseling menjadi sangat penting. Kita ingin pasien memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penyakit dan pengobatannya, sekaligus mendapatkan dukungan yang cukup agar mereka mau memulai dan melanjutkan pengobatan sampai sembuh,” katanya.
Pelatihan tersebut secara khusus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan pendamping dalam memberikan dukungan psikososial. Peserta tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai TB RO, tetapi juga kemampuan memahami kondisi psikologis pasien serta mendeteksi berbagai persoalan yang berpotensi menghambat pengobatan.
Diauddin mengatakan pendekatan psikososial yang tepat dapat membantu pasien menghadapi kecemasan, ketakutan dan stigma yang masih dapat muncul selama menjalani pengobatan TB RO.

“Pendekatan psikososial yang baik diharapkan dapat membantu pasien mengatasi kecemasan, ketakutan dan stigma. Dengan begitu, pasien tidak merasa menghadapi penyakit ini sendirian dan dapat lebih termotivasi untuk menyelesaikan pengobatan,” tuturnya.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memahami prinsip dasar pendampingan psikososial, menerapkan etika pendampingan, serta mampu memahami karakteristik pasien, termasuk anak dan remaja.
Peserta juga diharapkan mampu melakukan deteksi dini terhadap masalah psikologis, mengidentifikasi persoalan dan sistem dukungan yang dibutuhkan pasien, mendampingi perubahan perilaku positif, serta melakukan rujukan secara tepat dalam jejaring pendampingan psikososial.
Diauddin berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan oleh seluruh peserta di fasilitas kesehatan masing-masing.
“Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini, peserta lebih siap memberikan dukungan yang komprehensif kepada pasien TB RO. Kita ingin pasien menjalani pengobatan dengan semangat, mendapatkan pendampingan yang tepat, dan memiliki harapan yang kuat untuk sembuh,” pungkasnya.
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan pendamping tersebut diharapkan semakin memperkuat jejaring layanan TB RO di Kalimantan Selatan. Upaya ini sekaligus mendukung percepatan penemuan pasien, peningkatan cakupan pengobatan, serta keberhasilan terapi tuberkulosis resisten obat di daerah.


