Angkat Demensia dan Beban Pengasuhan, Film Mahasiswa ULM Kembali Tembus Final Nasional
in , ,

Angkat Demensia dan Beban Pengasuhan, Film Mahasiswa ULM Kembali Tembus Final Nasional

Angkat Demensia dan Beban Pengasuhan, Film Mahasiswa ULM Kembali Tembus Final Nasional

Banua Tv,Banjarmasin – Isu demensia dan beban psikologis keluarga yang merawat

penyandangnya diangkat mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui film pendek berjudul Gradien: Saat Waktu Menghapus Ingatan, Kasih Sayang Menemukan Jalan Pulang. Karya edukasi tersebut mengantarkan Vida Team dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM kembali menjadi finalis nasional Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 pada divisi Video Digital Pendidikan.

Film tersebut berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan kesehatan medis dan mental yang belum banyak mendapat perhatian masyarakat. Salah satunya adalah demensia, yang kerap dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan, padahal kondisi ini merupakan gangguan neurodegeneratif yang memengaruhi fungsi memori dan kognitif serta memerlukan deteksi dini dan penanganan yang tepat.

Melalui pendekatan sinematik, Gradien berupaya menyampaikan pemahaman mengenai demensia sekaligus memperkenalkan fenomena caregiver burden, yakni beban psikologis yang dapat dialami anggota keluarga ketika merawat penyandang demensia.

Film ini juga menyoroti pentingnya dukungan sosial, pembagian tanggung jawab pengasuhan di lingkungan keluarga, pendampingan profesional, serta penciptaan suasana rumah yang ramah bagi penyandang demensia.

Vida Team terdiri atas Kezia Keren Nadila dari Program Studi Psikologi sebagai ketua, bersama Elvina Reinandini dan Ibaldy Ryandu Fadhillah dari Program Studi Psikologi, serta Rizqi Zairinda Almuhtady dari Program Studi Kedokteran Program Sarjana. Dalam pengembangan karya, tim mendapat pendampingan dari dosen Psikologi FKIK ULM, Dr. Muhammad Abdan Shadiqi, S.Psi., M.Si.

Abdan menilai kepekaan sosial dan empati menjadi modal penting tim dalam mengembangkan film yang tidak hanya memenuhi kebutuhan kompetisi, tetapi juga membawa pesan edukasi kepada masyarakat.

“Potensi terbesar yang terlihat dari tim ini sejak awal adalah kepekaan dan tingkat empati yang tinggi. Mereka tidak sekadar ingin membuat film pendek untuk kompetisi, tetapi berusaha menghadirkan media edukasi digital yang berbasis ilmiah sekaligus dapat menyentuh hati masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, tantangan awal pengembangan film terletak pada upaya menggabungkan isu demensia dengan aspek psikologis dalam alur cerita yang mudah dipahami. Pendampingan kemudian difokuskan pada penyederhanaan cerita tanpa menghilangkan substansi ilmiah dan pesan edukasi yang hendak disampaikan.

“Peran kami sebagai pembimbing lebih kepada memfasilitasi dan membantu mahasiswa menghadirkan pesan edukasi yang mudah dipahami masyarakat tanpa terkesan menggurui. Karena isu yang dibahas memiliki aspek medis dan psikologis, maka penyampaian pesan menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.

Proses produksi Gradien dilakukan secara terstruktur, mulai dari riset ilmiah, penyusunan naskah, pembuatan videoboard, open casting, hingga pengambilan gambar dan penyuntingan. Salah satu tantangan utama tim adalah merangkum materi edukasi yang kompleks ke dalam durasi maksimal lima menit sesuai ketentuan lomba.

Untuk mengatasinya, para anggota melakukan evaluasi secara rutin dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Dalam proses tersebut, Abdan turut membantu penyempurnaan naskah, memberikan masukan mengenai demensia dan caregiver burden, serta memfasilitasi kebutuhan produksi. Pengambilan gambar film bahkan memanfaatkan rumah keluarga dosen pembimbing.

Salah satu unsur yang menjadi ciri khas Gradien adalah penggunaan simbol visual yang mendukung penyampaian pesan. Payung kuning menjadi elemen utama yang merepresentasikan harapan, kehangatan, dan kasih sayang yang tetap bertahan ketika ingatan penyandang demensia mulai memudar.

Selain mengembangkan film, Vida Team juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Alzheimer Indonesia (ALZI), melalui kegiatan webinar dan bedah film. Upaya ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pesan edukasi sekaligus mendorong pemahaman masyarakat mengenai demensia dan tantangan yang dihadapi keluarga perawat.

Abdan turut mengapresiasi dukungan ULM dalam pembinaan mahasiswa, mulai dari penyediaan sarana pendukung, pendampingan kompetisi, bantuan administratif, hingga publikasi karya mahasiswa melalui berbagai kegiatan kampus.

Baginya, keberhasilan menjadi finalis nasional bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan. Proses tersebut juga diharapkan membentuk mahasiswa menjadi inovator muda yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi melalui karya kreatif berbasis keilmuan.

“Harapannya, pesan edukasi dalam film Gradien dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas sehingga meningkatkan kesadaran tentang demensia dan pentingnya dukungan bagi para caregiver. Kami juga berharap Vida Team dapat memberikan penampilan terbaik di babak final dan mengharumkan nama Universitas Lambung Mangkurat,” tuturnya.

Keikutsertaan Vida Team dalam final LIDM 2026 menjadi kesempatan bagi mahasiswa ULM untuk menunjukkan bahwa karya digital dapat berperan lebih luas daripada sekadar media kompetisi. Melalui Gradien, mereka berupaya menjadikan film sebagai sarana edukasi yang menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman emosional keluarga, sekaligus mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap penyandang demensia dan orang-orang yang merawatnya.

Tinggalkan Balasan

ULM Dorong Mahasiswa Penerima Beasiswa Jadi Agen Perubahan, Ini Bekal yang Diperkuat

Belajar Kimia Lewat Cerita dan Laboratorium Virtual, Inovasi Mahasiswa ULM Tembus Final Nasional