Ancaman Resistensi Antimikroba Meningkat, Kemenkes Dorong Apoteker Edukasi Masyarakat
BANUA TV JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong apoteker memperkuat pelayanan kefarmasian sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan obat yang tepat.


Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, menyampaikan hal tersebut dalam peringatan World Pharmacist Day 2026 di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Lucia mengatakan peringatan World Pharmacist Day menjadi momentum untuk memperkuat profesionalisme apoteker dan pelayanan kefarmasian yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
“Yang penting adalah bagaimana kita benar-benar mewujudkan profesionalisme apoteker, mewujudkan pelayanan kefarmasian yang benar-benar memiliki dampak kepada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Lucia, pelayanan kefarmasian juga berkaitan dengan pengelolaan ketersediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan. Ketersediaan tersebut perlu dikelola agar kebutuhan obat masyarakat dapat terpenuhi tanpa terjadi kelebihan maupun kekurangan stok.
Selain ketersediaan obat, apoteker memiliki peran dalam memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penggunaan obat. Edukasi tersebut mencakup cara menggunakan, menyimpan, hingga membuang obat dengan benar.
“Karena masyarakat kita ada dari berbagai lapisan, tidak semua masyarakat memahami cara menggunakan obat, cara menyimpan obat, sampai kepada cara membuang obat juga, perlu adanya edukasi,” katanya.
Lucia juga menyebut puskesmas sebagai salah satu ujung tombak pelayanan kefarmasian karena berhubungan langsung dengan masyarakat. Ia mengapresiasi pelayanan kefarmasian di Puskesmas Tebet dan berharap pelayanan serupa dapat diterapkan di puskesmas lainnya.
Di sisi lain, Kemenkes menyoroti ancaman antimicrobial resistance (AMR) atau resistensi antimikroba. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong penggunaan antibiotik secara rasional dalam pelayanan kesehatan.
Kemenkes telah memiliki indikator untuk memantau penggunaan antibiotik secara rasional di puskesmas. Lucia menekankan agar indikator tersebut tidak hanya menjadi ukuran capaian, tetapi diterapkan dalam pelayanan.
“Saya harapkan juga bukan hanya sekadar angka ya teman-teman apoteker, tapi ini benar-benar diimplementasikan dengan baik, karena ancaman antimicrobial resistance ini sudah sangat berbahaya,” tegasnya.
Penguatan pelayanan kefarmasian dan edukasi penggunaan obat menjadi bagian dari upaya Kemenkes meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat secara tepat.
Pelayanan kesehatan juga diarahkan tidak hanya pada pengobatan, tetapi mencakup upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.


