Ekspor Kalsel Tembus US$1,05 Miliar, Bahan Bakar Mineral Dominasi 84,61 Persen
Banua Tv,Banjarbaru – Nilai ekspor Kalimantan Selatan pada September 2026 mencapai US$1.050,28 juta atau sekitar US$1,05 miliar. Meski mengalami penurunan 2,02 persen dibandingkan Agustus 2026, kinerja ekspor provinsi ini masih mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 34,28 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan, nilai ekspor pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$1.071,98 juta. Penurunan secara bulanan tersebut terjadi di tengah dominasi komoditas bahan bakar mineral yang masih menjadi penyumbang terbesar ekspor daerah.
Mukhamad Mukhanif menjelaskan, kelompok bahan bakar mineral (HS 27) mencatat nilai ekspor US$888,67 juta pada September 2026. Angka tersebut meningkat 1,34 persen dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar US$876,94 juta.
“Ekspor terbesar Kalimantan Selatan pada September 2026 berdasarkan kode Harmonized System (HS) 2 digit disumbangkan oleh kelompok bahan bakar mineral (HS 27) dengan nilai US$888,67 juta, naik sebesar 1,34 persen dibandingkan ekspor Agustus 2026 yang sebesar US$876,94 juta. Pada urutan kedua adalah kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) yang menyumbang ekspor sebesar US$105,21 juta, turun sebesar 26,62 persen dibandingkan ekspor Agustus 2026 yang mencapai US$143,38 juta,” kata Mukhamad Mukhanif di Banjarbaru, Kamis (5/11/2026).
Besarnya kontribusi bahan bakar mineral terlihat dari porsinya yang mencapai 84,61 persen terhadap total ekspor September. Sementara kelompok lemak dan minyak hewani/nabati menyumbang 10,02 persen.

Tiga kelompok komoditas lainnya yang masuk lima besar penyumbang ekspor adalah berbagai produk kimia (HS 38) sebesar 2,51 persen, kayu dan barang dari kayu (HS 44) sebesar 1,34 persen, serta karet dan barang dari karet (HS 40) sebesar 1,24 persen.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor terbesar Kalimantan Selatan dengan nilai US$401,23 juta. Namun, nilai tersebut turun 15,37 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai US$474,09 juta.
Sementara itu, nilai impor Kalimantan Selatan pada September 2026 tercatat US$147,22 juta. Angka ini meningkat 1,63 persen dibandingkan Agustus 2026 sebesar US$144,85 juta, tetapi turun 7,02 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai US$158,34 juta.
Mukhanif menyebut bahan bakar mineral juga mendominasi komposisi impor dengan nilai US$100,63 juta atau 68,35 persen dari total impor. Berikutnya, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) mencapai US$17,50 juta atau 11,89 persen, sedangkan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$10,15 juta atau 6,89 persen.
Komoditas impor lainnya adalah kapal, perahu, dan struktur terapung (HS 89) senilai US$8,86 juta atau 6,02 persen, serta bahan kimia organik (HS 29) sebesar US$3,18 juta atau 2,16 persen.
Berdasarkan negara asal, impor terbesar Kalimantan Selatan berasal dari Singapura dengan nilai US$73 juta. Malaysia berada di urutan berikutnya sebesar US$36,64 juta, disusul Tiongkok US$34,79 juta. Sementara impor dari Korea Selatan tercatat US$1,06 juta dan Jerman US$0,67 juta.
Data perdagangan tersebut menunjukkan ekspor Kalimantan Selatan masih ditopang kuat oleh kelompok bahan bakar mineral. Di sisi lain, perubahan nilai ekspor sejumlah komoditas dan tujuan perdagangan turut menjadi bagian penting dalam membaca dinamika perdagangan luar negeri daerah.

