Bang Dhin Serap Aspirasi Atlet Muda, Fasilitas dan Sinkronisasi Pendidikan Jadi Sorotan
Banua Tv,Banjarmasin – Keterbatasan fasilitas latihan dan benturan jadwal olahraga dengan kegiatan sekolah menjadi persoalan yang disuarakan atlet muda dalam Diskusi Olahraga bertema Pemuda Patriot Olahraga di Neir Coffee, Banjarmasin, Kamis (29/10/2026) sore.
Dalam forum yang menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Selatan, Syaripuddin atau Bang Dhin, dan Sekretaris KONI Banjarmasin, Arif Rahman Hakim, para atlet menyampaikan berbagai kebutuhan yang dinilai penting untuk memperkuat pembinaan olahraga daerah.
Diskusi yang berlangsung bertepatan dengan momentum peringatan Sumpah Pemuda tersebut menjadi ruang bagi atlet muda untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Selain ketersediaan sarana-prasarana, persoalan jalur prestasi dan kesinambungan pembinaan juga menjadi perhatian.
Bang Dhin mengatakan, forum tersebut digelar untuk mendengar secara langsung tantangan yang dihadapi atlet muda di Kalimantan Selatan. Aspirasi yang terkumpul diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan pembinaan olahraga yang lebih terarah.
“Ini bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda dan refleksi 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Saya ingin mendengar aspirasi teman-teman atlet muda di Kalimantan Selatan. Tadi ada beberapa hal yang menjadi perhatian, terutama sarana-prasarana, jadwal latihan yang berbenturan dengan sekolah, serta jalur prestasi,” ungkapnya.
Menurut Bang Dhin, persoalan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui koordinasi dan sinkronisasi kebijakan antarlembaga terkait. Sebagai anggota Komisi IV DPRD Kalsel yang membidangi pendidikan, kepemudaan, olahraga, dan kesehatan, ia berencana menyampaikan aspirasi para atlet kepada pemerintah daerah sebagai bahan penyusunan roadmap atau peta jalan pembangunan olahraga.
Ia menilai pendidikan dan pembinaan olahraga seharusnya berjalan beriringan. Atlet yang memiliki prestasi perlu memperoleh kesempatan mengakses pendidikan melalui jalur prestasi. Di sisi lain, jadwal pendidikan juga perlu diselaraskan dengan kebutuhan latihan agar atlet dapat mengembangkan kemampuan tanpa mengabaikan pendidikan formal.

“Olahraga juga bisa menunjang pendidikan mereka melalui jalur prestasi. Karena itu, dinas terkait, baik kabupaten/kota maupun provinsi, perlu membuka ruang bagi atlet yang memiliki prestasi. Jadwal pendidikan dan latihan harus disinkronkan sehingga ada keseimbangan,” jelasnya.
Bang Dhin menambahkan, gagasan menggelar diskusi tersebut berangkat dari keresahan yang ditemuinya saat berdialog dengan kalangan pemuda di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Tanah Bumbu. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan lebih banyak pelaku olahraga, pengurus cabang olahraga, dan KONI.
Aspirasi mengenai keterbatasan fasilitas turut disampaikan Irham, atlet cabang olahraga pickleball. Ia menyambut positif forum tersebut karena memberikan kesempatan kepada atlet dari berbagai cabang olahraga untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara langsung.
“Selama ini ruang kami untuk menyampaikan aspirasi cukup terbatas. Dengan adanya forum ini, atlet dari berbagai cabang olahraga bisa menyampaikan pendapat dan persoalan masing-masing. Harapannya, diskusi seperti ini bisa berjalan rutin,” ujarnya.
Irham menjelaskan, pickleball yang relatif baru berkembang di Kalimantan Selatan masih membutuhkan dukungan fasilitas dan pembinaan. Di Banjarmasin, atlet pickleball saat ini mengandalkan lapangan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk berlatih melalui pengajuan izin penggunaan fasilitas.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya ketersediaan sarana latihan yang memadai, terutama bagi cabang olahraga yang masih berada dalam tahap pengembangan.
Ia berharap pemerintah daerah bersama KONI dan pihak terkait dapat memperkuat dukungan fasilitas agar atlet memiliki kesempatan berlatih secara lebih optimal dan meningkatkan kemampuan untuk meraih prestasi.
Diskusi Pemuda Patriot Olahraga diharapkan menjadi awal komunikasi yang berkelanjutan antara pemerintah, KONI, dan atlet dalam merumuskan kebutuhan pembinaan olahraga di Kalimantan Selatan.
Melalui penyerapan aspirasi secara langsung, kebijakan olahraga daerah diharapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian medali, tetapi juga memperhatikan pemerataan fasilitas, kesinambungan pembinaan, serta keseimbangan antara prestasi olahraga dan pendidikan generasi muda.

