Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-58 KH Sya’rani Arief, Keteladanan Ulama Banua Dikenang
in , , , ,

Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-58 KH Sya’rani Arief, Keteladanan Ulama Banua Dikenang

Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-58 KH Sya’rani Arief, Keteladanan Ulama Banua Dikenang

Banua Tv,Banjar – Ribuan jemaah menghadiri rangkaian peringatan haul ke-58 KH Sya’rani Arief di Kubah almarhum, Kampung Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Senin (26/10/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang keteladanan dan kontribusi ulama besar asal Banua dalam perkembangan ilmu dan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan.

Rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan Maulid Diba’ yang dipimpin Habib Abdullah bin Ali Al Athas asal Bekasi, Jakarta. Suasana khusyuk menyertai kegiatan yang turut dihadiri Bupati Banjar H Saidi Mansyur, para habaib, tokoh agama, serta guru-guru agama dari Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Peringatan haul ini tidak hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk mengenang perjalanan keilmuan dan perjuangan KH Sya’rani Arief dalam menyebarkan ajaran Islam.

KH Muhammad Sya’rani Arief, yang dikenal sebagai KH Anang Sya’rani Arief Al-Banjari, merupakan ulama Nusantara yang memiliki keahlian dalam bidang hadis dan tafsir. Ia dikenal dengan sebutan Muhaddits wal Mufassir dan pernah menjadi pengasuh kelima Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Lahir di Kampung Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, pada 1914, KH Sya’rani Arief merupakan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan.

Perjalanan keilmuannya berlanjut ke Makkah pada 1930. Saat itu, ia didampingi sepupunya, Syekh Muhammad Syarwani Abdan Bangil, dan diantar oleh KH Kasyful Anwar. Selama 22 tahun bermukim di Tanah Suci, ia memperdalam ilmu agama hingga dipercaya mengajar di Masjidil Haram.

Di Makkah, KH Sya’rani Arief menimba ilmu dari sejumlah ulama, di antaranya Sayyid Amin al-Kutbi, Syekh Umar Hamdan, Ali bin Abdullah al-Banjari, Bakri Syatha, Muhammad Ali bin Husein al-Maliki, dan Ahyad al-Bughuri.

Setelah kembali ke tanah air, ia berperan dalam perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan melalui pengajaran dan pengabdian di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Selama menjadi pengasuh pesantren tersebut, ia mendidik banyak ulama, termasuk Syekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari atau Abah Guru Sekumpul.

Selain mengajar, KH Sya’rani Arief meninggalkan sejumlah karya tulis keagamaan, di antaranya kitab Thanwirut Thulab dan Hidayatuz Zaman. Keahliannya dalam bidang hadis dan tafsir serta kontribusinya dalam pendidikan Islam menjadikannya salah satu ulama yang dihormati di Kalimantan Selatan.

KH Sya’rani Arief wafat pada 17 Juni 1969, bertepatan dengan 14 Jumadilawal, dalam usia 55 tahun. Ia dimakamkan di Kampung Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, yang hingga kini menjadi lokasi masyarakat berziarah dan memperingati haulnya.

Rangkaian kegiatan haul pada Senin malam ditutup dengan zikir nasyid dan doa bersama. Sementara itu, puncak peringatan haul ke-58 KH Sya’rani Arief dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10/2026) malam.

Peringatan ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya menjaga warisan keilmuan para ulama sekaligus meneruskan nilai-nilai keteladanan mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

Tinggalkan Balasan

Harga Cabai Merah Tinggi di Banjarbaru dan HSU, Pemda Didorong Gelar Pasar Murah

Ribuan Santri dari 19 Ponpes Ikuti Kirab Nasional, Ini Pesan Penting Sekda Banjar