Sipatuh, Inovasi Digital Murung Keraton untuk Pantau Gizi dan Cegah Stunting
Banua Tv,Banjar – Pemantauan gizi dan tumbuh kembang anak menjadi lebih terarah melalui aplikasi berbasis web Sipatuh yang dikembangkan Kelurahan Murung Keraton, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Inovasi ini dirancang untuk membantu menyediakan data anak secara lebih akurat sekaligus memudahkan identifikasi anak yang terindikasi mengalami masalah gizi dan stunting.


Inovator Sipatuh, Muhammad Aminudin, Penata Layanan Operasional Kelurahan Murung Keraton, menjelaskan pengembangan aplikasi tersebut dilatarbelakangi keterbatasan data mengenai kondisi gizi anak dan stunting di tingkat kelurahan maupun kecamatan.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam talkshow SI-ANIDA (Suara Inspirasi Anak Inovasi Daerah) di Radio Suara Banjar, Rabu (21/10/2026) pagi.
Aminudin mengatakan, pengembangan Sipatuh diawali dengan persiapan sekitar satu bulan untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem. Tahap ini juga melibatkan koordinasi dengan bidan dan kader agar fitur aplikasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Setelah itu, pengembangan awal berlangsung sekitar dua minggu sebelum aplikasi diluncurkan pada 2026.
Dalam penerapannya, Sipatuh melibatkan empat peran utama, yakni kader, bidan, Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos), dan lurah sebagai pemangku kepentingan.
Kader bertugas memasukkan data anak ke dalam aplikasi. Jika ditemukan indikasi gizi kurang atau gizi buruk, sistem akan memberikan pemberitahuan untuk ditindaklanjuti. Selanjutnya, Puskesos melakukan verifikasi lapangan dengan memeriksa kondisi sanitasi, keadaan orang tua, serta kondisi rumah. Foto rumah juga digunakan sebagai dokumentasi pendukung dalam penyusunan laporan.
Menurut Aminudin, penggunaan data secara real time diharapkan dapat meminimalkan kekeliruan sekaligus membantu pihak kelurahan mengetahui anak-anak yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

“Kekuatan aplikasi ini adalah tersedianya diagram tumbuh kembang anak yang dapat digunakan para ibu untuk memantau perkembangan balitanya,” ujarnya.
Meski menawarkan kemudahan pemantauan, penerapan Sipatuh masih menghadapi tantangan, terutama terkait pemahaman teknologi di kalangan masyarakat. Sebagian ibu belum terbiasa menggunakan aplikasi digital, sementara masih ada pula yang jarang membawa anak ke posyandu.
“Kendala yang ditemui dalam penerapan di lapangan adalah masih adanya ibu-ibu yang belum menguasai teknologi atau belum memahami cara menggunakan aplikasi. Langkah yang kami lakukan adalah memberikan bimbingan teknis kepada para kader agar nantinya mereka dapat memberikan edukasi kepada warga,” ungkap Aminudin.
Untuk mengatasi kendala tersebut, sosialisasi akan terus dilakukan melalui bidan dan kader. Upaya ini diharapkan membantu masyarakat, khususnya para ibu di Kelurahan Murung Keraton, memahami penggunaan aplikasi dan memanfaatkan fitur yang tersedia untuk memantau kondisi anak.
Aminudin menambahkan, kerja sama berbagai pihak dalam pelaksanaan inovasi telah berjalan dengan baik. Namun, karena Sipatuh masih tergolong baru, pengenalan aplikasi kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan.
Saat ini, penggunaan Sipatuh masih difokuskan di Kelurahan Murung Keraton. Ke depan, aplikasi tersebut diwacanakan dapat dikembangkan untuk mencakup data pada tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Di akhir talkshow, Aminudin mengajak masyarakat mendukung penerapan Sipatuh dan lebih aktif membawa anak ke posyandu. Keterlibatan orang tua, kader, bidan, dan unsur kelurahan diharapkan dapat mengoptimalkan pemantauan gizi serta tumbuh kembang anak sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.


