Influenza A Ramai di Media Sosial, Kemenkes Ingatkan Warga Tak Sembarangan Beli Antivirus
BANUA TV – Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak membeli maupun menggunakan obat antivirus tanpa resep dokter di tengah ramainya informasi mengenai peningkatan kasus influenza A di media sosial dalam dua pekan terakhir.


Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia, mengatakan informasi yang beredar di media sosial mendorong sebagian masyarakat mencari hingga membeli obat antivirus tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan tenaga medis.
Menurut Lucia, influenza pada umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self-limiting disease. Penggunaan antivirus, kata dia, tidak diperlukan pada seluruh kasus influenza dan perlu berdasarkan pemeriksaan serta rekomendasi tenaga medis.
“Influenza adalah self-limiting disease, yang tidak perlu antivirus. Tetapi ramai di medsos orang mencari antivirus, sampai kepada orang-orang beli tanpa resep dokter untuk penggunaan antivirus,” ujar Lucia dalam peringatan World Pharmacist Day 2026 di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Lucia juga mengingatkan penggunaan antivirus tanpa pemeriksaan, termasuk pada anak-anak dan balita, dapat meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak sesuai serta ancaman resistensi.
Salah satu antivirus yang menjadi perhatian adalah Oseltamivir, yang digunakan untuk influenza. Lucia mengatakan efektivitas obat tersebut perlu dijaga agar tetap dapat digunakan ketika dibutuhkan.
“Saya bayangkan seandainya Oseltamivir itu sudah resisten, terus kita mau obatin apa lagi kalau kita memiliki ancaman influenza atau virus yang lebih berbahaya lagi,” katanya.
Untuk mencegah penggunaan obat tanpa informasi yang tepat, Lucia meminta apoteker turut memberikan edukasi kepada masyarakat. Apoteker dinilai memiliki peran dalam memberikan informasi mengenai penggunaan obat sebelum dikonsumsi.
“Teman-teman apoteker, sekali lagi tolong menjadi garda terdepan dalam pemberian obat-obatan, juga bisa menjaga, memberikan edukasi, informasi yang benar, dan tidak mengikuti kepanikan yang ada,” pesan Lucia.
Lucia menambahkan, pelayanan kefarmasian tidak hanya berkaitan dengan pemberian obat, tetapi juga pemberian informasi kepada masyarakat mengenai obat yang diterima dan penggunaannya sesuai kebutuhan.
Menurutnya, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
Edukasi yang berkelanjutan mengenai penggunaan obat secara rasional menjadi bagian dari upaya agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat sebelum menggunakan antivirus.


