Berawal dari Evaluasi, Mahasiswa Farmasi ULM Tembus Juara 1 Poster Ilmiah Internasional
Banua TV, Banjarbaru – Kritik dan evaluasi dari kompetisi sebelumnya justru menjadi pijakan bagi dua mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk meraih prestasi lebih tinggi.


Inatsa Dwi Tatsbita dan Aisyiyah Nurul Hidayat berhasil menyabet Juara 1 (1st Winner) lomba poster ilmiah internasional dalam ajang The International NursFest 6.0 yang diselenggarakan Bhakti Wijaya Institute of Health Sciences.
Prestasi tersebut diraih melalui karya berjudul “ChroniCare: An AI-Integrated Telepharmacy Platform to Chronic Disease Management”, yang mengangkat pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung pengelolaan penyakit kronis.
Kompetisi internasional tersebut mengusung tema “Innovative Ideas in Chronic Disease Management for a Better Global Health”. Pelaksanaannya dilakukan secara daring dan diikuti peserta dari berbagai daerah, negara serta latar belakang.
Rangkaian kompetisi berlangsung sejak registrasi dan pengumpulan karya pada Mei hingga Juni 2026, dilanjutkan proses penilaian oleh dewan juri. Pengumuman pemenang dilakukan pada 4 Juli 2026.
Bagi Inatsa dan Aisyiyah, keberhasilan tersebut bukanlah hasil yang datang secara instan. Sebelumnya, mereka telah mengikuti kompetisi di tingkat nasional. Meski belum memperoleh juara yang diharapkan, karya mereka mendapatkan kritik dan masukan dari para juri.
Alih-alih berhenti, pengalaman tersebut justru digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki karya dan meningkatkan kesiapan menghadapi kompetisi berikutnya.
“Pengalaman dari kompetisi sebelumnya menjadi motivasi kami untuk terus melakukan perbaikan dan mencoba tantangan di tingkat yang lebih luas,” ungkap Inatsa.
Perbaikan tersebut kemudian dituangkan dalam gagasan ChroniCare. Platform telepharmacy yang mereka tawarkan dirancang dengan integrasi AI untuk membantu pemantauan kesehatan, memberikan pengingat penggunaan obat hingga menyediakan layanan konsultasi secara daring.
Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan pengelolaan penyakit kronis yang membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung layanan kesehatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Bagi mahasiswa Farmasi ULM, inovasi tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi akademik untuk menghadirkan gagasan yang menghubungkan ilmu kefarmasian dengan perkembangan teknologi.
Namun, perjalanan menuju podium juara tidak sepenuhnya mudah. Salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah membagi waktu antara persiapan kompetisi dan kewajiban akademik.
Keduanya harus mempersiapkan karya di tengah padatnya kegiatan perkuliahan, termasuk menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), Ujian Akhir Praktikum (UAP) hingga Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
“Membagi waktu antara persiapan lomba dan aktivitas akademik yang cukup padat, termasuk menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), Ujian Akhir Praktikum (UAP), serta Objective Structured Clinical Examination (OSCE)” tambahnya.
Konsistensi dalam proses persiapan akhirnya membuahkan hasil. ChroniCare berhasil membawa nama mahasiswa Farmasi ULM ke posisi tertinggi dalam kompetisi poster ilmiah internasional tersebut.
Bagi Inatsa dan Aisyiyah, kemenangan itu menjadi pengalaman berharga karena mereka harus berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah, negara dan latar belakang.
“Pencapaian ini membuat kami sangat senang, bangga, dan bersyukur. Terlebih, hasil ini merupakan buah dari proses panjang yang penuh tantangan dan evaluasi dari pengalaman sebelumnya,” tuturnya.
Prestasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kegagalan dalam kompetisi sebelumnya tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Dengan evaluasi dan perbaikan, pengalaman tersebut justru dapat menjadi modal untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
Melalui karya ChroniCare, keduanya tidak hanya membawa pulang penghargaan, tetapi juga memperkenalkan gagasan mahasiswa ULM mengenai pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung layanan kefarmasian dan pengelolaan penyakit kronis.
Ke depan, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa ULM lainnya untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan gagasan sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Inatsa dan Aisyiyah juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan minimnya pengalaman sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
“Jadikan setiap kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk berkembang menjadi lebih baik. Persiapkan diri dengan matang, manfaatkan kritik yang membangun, dan tetap konsisten dalam berproses. Kesempatan untuk meraih prestasi akan selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak mudah menyerah,” pesan mereka.
Prestasi Juara 1 The International NursFest 6.0 akhirnya menjadi bukti bahwa proses panjang, evaluasi dan keberanian mencoba kembali dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih tinggi.


