Pra-Biennale Kalimantan 2026 Bangun Jejaring Perupa, Bidik Panggung Seni hingga Internasional
in , , ,

Pra-Biennale Kalimantan 2026 Bangun Jejaring Perupa, Bidik Panggung Seni hingga Internasional

Pra-Biennale Kalimantan 2026 Bangun Jejaring Perupa, Bidik Panggung Seni hingga Internasional

Banua Tv,Banjarmasin – Upaya membangun ekosistem seni rupa yang lebih kuat di Pulau Kalimantan mulai mendapat ruang melalui Pra-Biennale Kalimantan 2026. Gelaran yang mengangkat tema “Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama” tersebut tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga menjadi titik temu bagi para perupa untuk membangun jejaring dan menyatukan visi menuju Biennale Kalimantan 2027.

~ Advertisements ~

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Pra-Biennale dinilai menunjukkan bahwa perkembangan seni dan budaya tidak hanya lahir dari institusi formal, tetapi juga tumbuh dari inisiatif masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kalsel, Eddy Suwarto, mengatakan karya yang ditampilkan dalam Pra-Biennale mampu menggambarkan kekayaan identitas budaya Kalimantan Selatan yang terbentuk melalui sejarah, tradisi, dan akulturasi.

“Jadi, karyanya luar biasa, mewakili akulturasi Kalimantan Selatan, Banua kita yang bagus ini, yang kaya akan warisan budaya,” ujar Eddy saat ditemui di lokasi kegiatan di Banjarmasin, Selasa (11/8/2026).

Menurut Eddy, geliat seni yang tumbuh dari masyarakat perlu terus mendapat dukungan. Pemerintah daerah, kata dia, memiliki peran untuk membuka ruang agar sanggar, komunitas, dan penggiat seni dapat berkembang secara lebih luas.

“Dari sisi kegiatan, saya sangat mengapresiasi bahwa ini adalah kegiatan yang bertumbuh dari bawah. Selayaknya Kalimantan Selatan ke depan akan lebih mengapresiasi dan memperhatikan event-event seperti ini,” katanya.

Dukungan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat sektor kebudayaan dan pariwisata yang menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Pemprov Kalsel melalui Disdikbud berkomitmen memberikan fasilitasi kepada lembaga seni dan para penggiat kebudayaan agar perkembangan ekosistem seni tidak hanya bergantung pada kegiatan yang bersifat formal.

“Komitmen kita sudah jelas di RPJMD Gubernur, memperhatikan kebudayaan dan pariwisata. Pada tahun ini kita akan melakukan fasilitasi terhadap lembaga-lembaga sanggar, penggiat seni budaya, untuk lebih bertumbuh dari bawah, jadi tidak secara eksklusif,” jelasnya.

Pra-Biennale tahun ini sekaligus menjadi tahapan menuju penyelenggaraan Biennale Kalimantan pada 2027. Pemerintah memastikan agenda tersebut akan dilanjutkan dengan dukungan Taman Budaya.

“Ke depan, khusus acara ini, Biennale insyaallah nanti akan difasilitasi oleh Taman Budaya. Jadi, kita pastikan insyaallah tahun depan, 2027, Biennalenya. Yang ini Pra-Biennale, nanti tahun depan Biennalenya,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurator Pra-Biennale Kalimantan, Zamrud Setya Negara, melihat kegiatan tersebut memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar ruang pamer karya. Pra-Biennale menjadi wadah untuk mempertemukan perupa dari berbagai wilayah sekaligus membangun kesamaan visi menuju Biennale Kalimantan.

“Pra-Biennale Kalimantan hari ini menjadi pemantik untuk menyatukan visi bersama para perupa se-Kalimantan. Artinya, hari ini yang terjadi di Kalimantan Selatan ini adalah proses yang menjadi salah satu fase untuk mewujudkan Biennale Kalimantan,” ujar Zamrud.

Menurut Zamrud, penguatan kapasitas perupa ke depan tidak harus selalu dilakukan melalui pola pembinaan formal. Pertukaran pengetahuan dan informasi antarseniman justru dinilai penting untuk memperluas perspektif dan memperkaya karya para perupa.

“Ke depannya mungkin secara spesifik tidak disebut dengan pembinaan, tetapi sharing knowledge, kemudian sharing informasi-informasi untuk melengkapi dan menambah khazanah semua perupa yang akan siap menuju Biennale Kalimantan,” jelasnya.

Jejaring yang dibangun melalui Pra-Biennale mencakup para seniman dari berbagai wilayah Kalimantan, mulai dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Utara.

Konsep tersebut diharapkan menjadikan Biennale Kalimantan sebagai ruang penghubung bagi para pelaku seni rupa di Pulau Kalimantan. Tidak hanya mempertemukan karya, forum ini juga membuka peluang terjadinya pertukaran gagasan, pengetahuan, serta kolaborasi lintas daerah.

Dalam jangka panjang, Biennale Kalimantan diharapkan mampu berkembang menjadi agenda seni rupa yang memiliki daya saing di tingkat regional dan nasional. Lebih jauh, jejaring yang terbentuk juga diarahkan untuk membuka peluang bagi karya seniman Kalimantan tampil di panggung internasional.

Dengan demikian, Pra-Biennale Kalimantan 2026 menjadi langkah awal untuk memperkuat fondasi ekosistem seni rupa di Kalimantan. Dari ruang pamer dan pertukaran gagasan, para perupa disiapkan untuk membangun jejaring yang lebih luas menuju Biennale Kalimantan 2027.

Tinggalkan Balasan

Bukan Sekadar Peringkat, Nilai IKADA 100,00 Banjarbaru Perkuat Layanan ASN

Bendera Merah Putih Dibagikan di Jalan, Diskominfo Kalsel Ajak Warga Kobarkan Nasionalisme