Target Pertumbuhan Ekonomi 8,1 Persen, Inovasi Jadi Penggerak Transformasi Pembangunan
in , , , ,

Target Pertumbuhan Ekonomi 8,1 Persen, Inovasi Jadi Penggerak Transformasi Pembangunan

Target Pertumbuhan Ekonomi 8,1 Persen, Inovasi Jadi Penggerak Transformasi Pembangunan

Banua Tv,Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menegaskan bahwa inovasi daerah tidak boleh berhenti sebagai ajang kompetisi ataupun sekadar menghasilkan aplikasi baru, tetapi harus menjadi instrumen transformasi birokrasi sekaligus penggerak pembangunan ekonomi daerah.

~ Advertisements ~

Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Kalimantan Selatan, Ariadi Noor, saat membuka Presentasi Final Kalsel Innovation Award (KIA) Tahun 2026 di Aula Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru, Selasa (28/7/2026).

Ariadi mengatakan Kalimantan Selatan saat ini menghadapi tantangan besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8,1 persen pada 2029, sebagaimana arah pembangunan nasional.

“Kita sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kalsel sedang membangun diri sebagai gerbang logistik Kalimantan, sementara target pertumbuhan ekonomi kita mencapai 8,1 persen pada tahun 2029. Saat ini pertumbuhan ekonomi kita masih berada di kisaran 5,6 sampai 5,7 persen sehingga masih diperlukan lompatan melalui inovasi, investasi, serta transformasi ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, inovasi harus diarahkan untuk menjawab persoalan strategis pembangunan, termasuk mendorong hilirisasi sumber daya alam agar Kalimantan Selatan tidak lagi hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah.

“Hari ini komoditas unggulan kita masih didominasi batu bara. Tantangan ke depan adalah bagaimana kita mengembangkan hilirisasi sehingga tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah seperti dimetil eter (DME), pupuk, maupun produk turunan lainnya. Di sinilah inovasi harus hadir sebagai solusi pembangunan,” katanya.

Ariadi menegaskan, inovasi yang dibutuhkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bukan hanya digitalisasi layanan, tetapi perubahan cara berpikir aparatur dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Saya ingin kita semua berpikir lebih luas. Inovasi bukan hanya membuat aplikasi baru atau sistem informasi baru, tetapi bagaimana memperbaiki proses bisnis, meningkatkan efisiensi anggaran, menyederhanakan pelayanan, dan menghasilkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya perencanaan berbasis riset agar setiap kebijakan memiliki landasan ilmiah yang kuat.

“Saya memimpikan bagaimana seluruh perencanaan pembangunan benar-benar berbasis riset. Planning by research harus menjadi budaya kita karena inovasi yang baik lahir dari kajian yang matang. Nilai tertinggi dari sebuah inovasi adalah manfaatnya, kemudian keberlanjutannya. Jangan sampai inovasi berhenti setelah lomba selesai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ariadi mengingatkan bahwa masyarakat kini memiliki ekspektasi yang semakin tinggi terhadap kualitas pelayanan pemerintah.

“Masyarakat tidak lagi hanya ingin pelayanan selesai sesuai prosedur. Mereka ingin pelayanan yang cepat, mudah, sederhana, transparan, dan memberikan solusi. Oleh sebab itu keberhasilan birokrasi diukur dari perubahan yang dirasakan masyarakat, bukan dari banyaknya regulasi ataupun kegiatan yang kita laksanakan,” ucapnya.

Sebagai bentuk komitmen membangun budaya inovasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mewajibkan setiap perangkat daerah menghasilkan sedikitnya satu inovasi setiap tahun.

“Kebijakan ini bukan tambahan beban administrasi, tetapi komitmen agar setiap organisasi terus belajar, memperbaiki diri, dan beradaptasi terhadap perubahan. Saya ingin Kalsel dikenal bukan hanya memiliki banyak inovasi, tetapi mampu menghadirkan inovasi yang benar-benar hidup, diterapkan, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pada Kalsel Innovation Award (KIA) Tahun 2026, BRIDA Provinsi Kalimantan Selatan menerima 88 proposal inovasi dari perangkat daerah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta masyarakat umum.

Seluruh proposal telah melalui tahapan seleksi administrasi dan substansi sebelum dipilih 10 finalis terbaik pada masing-masing kategori untuk mempresentasikan inovasinya di hadapan dewan juri yang berasal dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PANRB, UPT Laboratorium Terpadu Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Pascasarjana Universitas Islam Kalimantan (UNISKA).

Tinggalkan Balasan

Antisipasi Kemarau Panjang, DPKP Kalsel Perkuat Mitigasi untuk Lindungi Lahan Pertanian

DPMPTSP Kalsel Perkuat Promosi Investasi Bersama Bank Indonesia dan Kembangkan Komoditas Strategis Daerah