Wakil Rektor (WR) Bidang Umum dan Keuangan ULM, Dr. Ir. Arief Rahmad Maulana Akbar, M.Si., (kiri) bersama Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, Prof. Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D. (tengah), dan Dekan Fakultas Teknik ULM Prof. Dr. Ir. Iphan Fitrian Radam, S.T., M.T., IPU (kanan), duduki dan pamerkan hasil olahan sampah plastik residu menjadi material komposit dan barang bernilai tinggi. Foto: Banua Tv
in , ,

ULM Olah Sampah Plastik Residu Jadi Material Komposit Bernilai Ekonomi

ULM Olah Sampah Plastik Residu Jadi Material Komposit Bernilai Ekonomi

~ Advertisements ~

Banua Tv, Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik residu menjadi material komposit yang dimanfaatkan sebagai produk eco wood untuk kebutuhan furnitur dan konstruksi.

Inovasi ini mengubah sampah plastik kategori low value, seperti bungkus makanan dan plastik campuran, menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, Prof. Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa pengolahan ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan sampah di lingkungan kampus.

“Harapannya tidak ada sampah dari internal kampus yang keluar. Selain pemilahan dan pengolahan sampah organik menjadi kompos, kami juga fokus mengonversi sampah plastik low value atau residu yang tidak memiliki nilai ekonomi,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Sampah plastik residu diolah menggunakan reaktor melalui proses pelelehan yang telah dipatenkan. Proses ini menghasilkan material komposit dengan karakteristik menyerupai kayu.

Material tersebut dimanfaatkan untuk berbagai produk seperti kusen, pintu, meja, dan kursi. Satu set meja dan kursi yang menggunakan sekitar 300 kilogram sampah plastik residu dapat dipasarkan hingga Rp1 juta.

“Karena berbahan dasar plastik, daya tahannya bisa bertahun-tahun, anti rayap, dan tahan terhadap berbagai bahan kimia,” bebernya.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, Prof. Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D., perlihatkan alat peleleh plastik residu yang ramah lingkungan, di Kampus Teknik ULM Banjarbaru, Senin sore (6/4/2026). Foto: Banua Tv

Dalam satu kali produksi, teknologi ini mampu mengolah hingga 10 ton sampah plastik residu.

Pengolahan dilakukan melalui pelelehan pada suhu terkontrol di bawah 250 derajat Celsius tanpa proses pembakaran.

“Prosesnya tanpa pembakaran, sehingga tidak menghasilkan polusi emisi berbahaya seperti dioksin. Intinya, penemuan ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik,”  ungkapnya.

Saat ini, pemanfaatan teknologi difokuskan pada pengolahan sampah di lingkungan kampus dan sekitarnya. Namun, ULM membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah untuk penerapan lebih luas.

“Kami kampus ULM siap membuka pintu bagi pemerintah daerah yang ingin menduplikasi sistem ini guna mengatasi masalah sampah di tingkat kota maupun kabupaten. Kami siap bermitra dengan kabupaten/kota yang membutuhkan, baik dari sisi tenaga ahli maupun penyediaan peralatan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Panen Perdana Jagung Manis di Sebelimbingan, Pemkab Kotabaru Manfaatkan Lahan Tidur