Ngabuburit Edukatif, Imigrasi Gorontalo Bangun Literasi Keimigrasian Bersama Anak Panti

Banua Tv, Gorontalo – Upaya membangun kesadaran hukum sejak dini terus digencarkan jajaran imigrasi di Gorontalo. Tidak hanya melalui pelayanan administratif, edukasi keimigrasian kini menyasar generasi muda lewat pendekatan yang komunikatif dan humanis.
Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo menyelenggarakan kegiatan bertajuk NGABUBURIT YUK (Ngajak Buat Berburu Info Penting Di Penyuluhan Hukum Keimigrasian) sebagai bagian dari peningkatan literasi hukum kepada masyarakat.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan buka puasa bersama anak-anak Panti Asuhan Yayasan An-Nur, menghadirkan nuansa edukatif sekaligus kebersamaan di bulan Ramadan.
Sosialisasi tersebut bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai regulasi dan prosedur keimigrasian, mulai dari tata cara pengurusan paspor, kewajiban dan hak pemegang dokumen perjalanan, hingga konsekuensi hukum atas pelanggaran keimigrasian.
“Edukasi ini menjadi bagian dari komitmen institusi dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk mendukung tertib administrasi keimigrasian,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo, Josua Pahala Martua.
Anak-anak panti asuhan mengikuti sesi penyuluhan secara interaktif. Dalam suasana dialogis, peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan isu-isu aktual di bidang keimigrasian.
“Pendekatan komunikatif ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman sekaligus menumbuhkan sikap kritis dan tanggung jawab terhadap informasi yang beredar,” harap Josua.
Josua Pahala Martua menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan publik yang edukatif dan partisipatif.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai strategi penguatan literasi keimigrasian di wilayah Gorontalo.
Materi penyuluhan turut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Gorontalo, Agung Sampurno.
Ia menekankan pentingnya kesadaran hukum sebagai fondasi dalam menghadapi dinamika mobilitas global yang kian terbuka.
Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa pemahaman terhadap aturan keimigrasian tidak hanya relevan bagi calon pemohon paspor, tetapi juga menjadi bagian dari literasi kewarganegaraan di era pergerakan lintas negara yang semakin intensif.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilaksanakan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Momentum ini menjadi refleksi bahwa pelayanan publik tidak semata berorientasi pada aspek administratif, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan.

