Ilustrasi penularan Virus NIpah yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari genus Pteropus. Foto: MC Kalsel
in

Kalsel Perkuat Sistem Kesehatan Hadapi Ancaman Virus Nipah

Kalsel Perkuat Sistem Kesehatan Hadapi Ancaman Virus Nipah

~ Advertisements ~

Banua Tv, Banjarmasin – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menegaskan komitmennya dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyakit menular berbahaya, termasuk Virus Nipah, meski hingga akhir Januari 2026 belum ditemukan satu pun kasus. 

Langkah antisipatif itu diwujudkan melalui penguatan kesiapsiagaan sistem kesehatan di seluruh kabupaten dan kota.

Penguatan kewaspadaan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (Dinkes Kalsel) sebagai tindak lanjut atas Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kesiapsiagaan terhadap penyakit zoonosis emerging. 

Virus Nipah menjadi salah satu perhatian utama karena dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalsel, Anhar Ihwan menekankan bahwa langkah ini bertujuan memastikan fasilitas pelayanan kesehatan siap menghadapi potensi risiko sejak dini.

“Walaupun belum ada laporan kasus, kami tidak ingin menunggu sampai kejadian. Rumah sakit dan puskesmas diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat,” ujar Anhar, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan, seluruh fasilitas kesehatan telah diarahkan untuk memperketat surveilans epidemiologi, terutama terhadap pasien dengan gejala demam akut yang disertai gangguan pernapasan maupun gangguan saraf, terlebih jika memiliki riwayat paparan risiko.

Menurut Anhar, kecepatan deteksi dan pelaporan menjadi faktor krusial dalam pengendalian penyakit dengan tingkat keganasan tinggi seperti Virus Nipah.

“Kunci pengendalian ada pada kecepatan. Jika ada gejala yang mengarah, pelaporan harus dilakukan segera agar penanganan bisa lebih efektif,” jelasnya.

Selain deteksi dini, Dinkes Kalsel juga memperkuat penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga medis diwajibkan menerapkan penggunaan alat pelindung diri (APD) secara disiplin guna menekan risiko penularan di lingkungan layanan kesehatan.

Upaya pencegahan turut melibatkan peran aktif masyarakat. Dinkes Kalsel mengimbau warga untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan.

“Belum ada kasus bukan berarti kita lengah. Kesiapsiagaan adalah cara terbaik agar Kalimantan Selatan tetap aman,” tegas Anhar.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari genus Pteropus. 

Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, maupun kontak erat antar manusia.

Secara medis, infeksi Virus Nipah dapat memicu gangguan pernapasan akut hingga gangguan saraf berat seperti ensefalitis, dengan tingkat kematian yang dilaporkan mencapai 40 hingga 75 persen. 

Meski Indonesia belum pernah mencatat kasus pada manusia, peningkatan kewaspadaan dinilai penting mengingat potensi risiko di kawasan Asia Tenggara.

Melalui langkah antisipatif ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berharap kesiapan sistem kesehatan tetap terjaga, sekaligus memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman penyakit menular.

Tinggalkan Balasan

Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Desa Bincau, 22 Adegan Diperagakan

Audit BPK Ungkap Potensi Kerugian Miliaran di PDAM Wanua Wenang, Laporan ke Kejari Manado Masih Jalan di Tempat