Kemnaker Latih 1.041 Penyandang Disabilitas, Pusat Pelatihan Khusus Disiapkan pada 2027
Banua Tv,Bekasi – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah memberikan pelatihan vokasi kepada 1.041 penyandang disabilitas selama Januari hingga Oktober 2026. Sebagian besar alumni dilaporkan telah bekerja, sementara sebagian lainnya mulai menjalankan usaha mandiri.


Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk meningkatkan keterampilan dan memasuki dunia kerja. Untuk memperkuat akses tersebut, Kemnaker berencana membangun pusat pelatihan khusus penyandang disabilitas di Bekasi pada 2027.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan capaian dan rencana tersebut saat menghadiri Orientasi Peserta Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) Batch V Tahun 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Jumat (16/10/2026).
“Semoga bisa terus ditingkatkan sampai akhir tahun. Menurut saya, 1.041 ini satu capaian yang luar biasa karena kita ingin menghadirkan kesempatan yang sama kepada teman-teman disabilitas. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja dan membuka usaha sendiri,” ujar Yassierli.
Pusat pelatihan yang direncanakan beroperasi di Bekasi tersebut diharapkan menjadi sarana bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Sejumlah program yang disiapkan meliputi call center, teknologi informasi (IT), barista, dan menjahit. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal peserta untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha sendiri.
Yassierli berharap pusat pelatihan itu nantinya dapat menjadi percontohan pelatihan vokasi khusus penyandang disabilitas di Indonesia. Ia menegaskan, pemerintah perlu terus memperluas kesempatan agar penyandang disabilitas dapat mengembangkan potensi dan memperoleh akses yang setara.
“Kita ingin teman-teman disabilitas tersenyum dan pemerintah hadir untuk mereka,” kata Yassierli.
Manfaat pelatihan vokasi juga dirasakan Muhammad Fahri (21), penyandang disabilitas tunarungu yang mengikuti pelatihan barista selama satu bulan. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah kafe.
“Manfaatnya, setelah mengikuti pelatihan, saya mendapatkan pekerjaan. Sekarang saya sudah bekerja di sebuah kafe,” ujar Fahri melalui penerjemah bahasa isyarat.
Pengalaman tersebut mendorong Fahri mengajak penyandang disabilitas lainnya, khususnya sesama tunarungu, untuk mengikuti pelatihan vokasi sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
Melalui pelatihan vokasi dan rencana pembangunan pusat pelatihan khusus, Kemnaker berupaya memperluas akses penyandang disabilitas terhadap pengembangan keterampilan. Program ini diharapkan membuka lebih banyak kesempatan untuk bekerja, membangun usaha, dan meningkatkan kemandirian ekonomi.


