Bank Sampah Gratis dan Pupuk Pekarangan Jadi Nilai Tambah Murung Asam di STBM Award 2026
Banua Tv,HSU – Inovasi Bank Sampah Cegah Stunting (Banting) menjadi salah satu keunggulan Desa Murung Asam, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), dalam penilaian Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Award Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan 2026.


Program ini mengintegrasikan pengelolaan sampah rumah tangga dengan upaya menciptakan lingkungan yang sehat. Inovasi tersebut mendapat perhatian Tim Penilai STBM Award Kalsel saat melakukan verifikasi lapangan di Desa Murung Asam, Selasa (13/10/2026).
Verifikasi dipimpin Ketua Tim Juri STBM Award Kalsel, Anhar Ikhwan, bersama perwakilan sejumlah perangkat daerah provinsi, meliputi Dinas Kesehatan, Dinas PUPR, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD).
Kedatangan tim disambut Koordinator Program P2PMKL Dinas Kesehatan Kabupaten HSU, Rusdiani, Camat Sungai Pandan, Kepala Desa Murung Asam Pajeri, perangkat desa, dan kader setempat.
Penilaian diawali dengan diskusi bersama perangkat daerah dan kader desa untuk memeriksa dokumen pelaksanaan lima pilar STBM. Tim kemudian meninjau kondisi lingkungan permukiman, pengelolaan sampah, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.
Perwakilan tim penilai dari Dinas Lingkungan Hidup, Handriansyah, menjelaskan bahwa inovasi Banting menghubungkan pengelolaan sampah rumah tangga dengan peningkatan kualitas lingkungan sebagai salah satu faktor pendukung pencegahan stunting.
“Bank Sampah Cegah Stunting ini merupakan upaya mengintegrasikan pengelolaan sampah rumah tangga dengan peningkatan kualitas lingkungan untuk mendukung pencegahan stunting,” ujarnya.
Program Banting telah menjangkau empat RT dengan cakupan 244 kepala keluarga atau 672 jiwa. Untuk menunjang pelaksanaannya, desa mendapatkan bantuan 61 tong sampah dan satu unit mobil pikap yang digunakan untuk mengangkut sampah anorganik.

“Untuk mendukung pelaksanaannya, desa mendapatkan bantuan 61 tong sampah dan satu unit mobil pikap sebagai sarana pengangkutan sampah anorganik,” paparnya.
Salah satu keunggulan program ini adalah layanan pengangkutan sampah yang digratiskan bagi masyarakat karena seluruh biaya ditanggung pemerintah desa. Warga juga didorong mengolah sampah organik menjadi pupuk untuk tanaman di pekarangan rumah.
“Selain sampah anorganik, warga juga mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dimanfaatkan untuk tanaman di pekarangan rumah masing-masing,” ungkapnya.
Menurut Handriansyah, pemilahan sampah sejak dari sumber merupakan langkah positif untuk membangun kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab. Inovasi tersebut sekaligus menjadi nilai tambah dalam penilaian, terutama pada aspek pengelolaan sampah rumah tangga.
Namun, penguatan sosialisasi masih diperlukan agar masyarakat memahami cara memilah dan mengelola sampah sesuai jenis materialnya. Pemilahan, termasuk memisahkan tutup dan label botol plastik, dapat membantu mendukung proses pengolahan berikutnya.
“Untuk saat ini mungkin perlu sosialisasi lagi tentang pengelolaan bank sampah. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana sampah bisa dikelola dan dipilah, sehingga selama ini mereka cenderung menjualnya tanpa pengolahan lebih lanjut,” jelasnya.
Ia berharap peningkatan edukasi dan partisipasi warga dapat membuat pengelolaan sampah di Desa Murung Asam semakin optimal dan berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Program P2PMKL Dinas Kesehatan Kabupaten HSU, Rusdiani, menegaskan bahwa keberhasilan STBM tidak cukup diukur dari kelengkapan dokumen atau pencapaian penghargaan. Hal yang lebih penting adalah perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan.
Lima pilar STBM meliputi penghentian buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Rusdiani juga mengapresiasi komitmen pemerintah desa, kader kesehatan, tim PKK, tokoh masyarakat, dan warga yang telah berpartisipasi membangun budaya hidup bersih dan sehat.
Melalui inovasi Banting, Desa Murung Asam diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus membangun lingkungan yang lebih sehat. Keberlanjutan program akan bergantung pada konsistensi pengelolaan serta meningkatnya kesadaran warga untuk memilah dan mengolah sampah dari rumah.


