Pameran “Intan Banua” Hadirkan Tokoh dan Ingatan Budaya Banua melalui Karya Seni
Banua Tv, Banjarmasin – Lebih dari 40 karya seni lukis karya perupa lokal Muslim Anang Abdullah dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk “Intan Banua” di Gedung Wargasari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Jumat (11/9/2026).


Pameran yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Taman Budaya Kalsel tersebut tidak hanya menawarkan karya secara visual. Sejumlah lukisan juga mengangkat sosok tokoh agama, budaya, dan tokoh nasional yang memiliki kaitan dengan perjalanan masyarakat Banua.
Salah satu sosok yang menjadi ikon pameran adalah Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sosok tersebut diangkat sebagai representasi “permata Banua” dalam bidang keilmuan.

Muslim Anang Abdullah menjelaskan, tajuk “Intan Banua” memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menggambarkan intan sebagai salah satu ikon Kalimantan Selatan.
Istilah tersebut juga digunakan untuk menggambarkan tokoh-tokoh yang dipandang memiliki kontribusi dan menjadi “permata” bagi Banua dalam bidang masing-masing.
“Pemilihan tajuk ‘Intan Banua’ diambil dari salah satu ikon karya yang mengangkat sosok Datu Kalampayan (Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari), yang dianggap sebagai permata ilmu pengetahuan Banua,” jelas Muslim Anang.
Menurut Muslim, Datu Kalampayan memiliki pengaruh dalam perkembangan keilmuan Islam. Karena itu, sosoknya dipilih sebagai salah satu figur utama yang dihadirkan melalui karya seni dalam pameran tersebut.

“Sebenarnya ada beberapa lukisan yang jadi ikon, tetapi kita mengangkat Datu Kalampayan. Karena Datu Kalampayan ini dilambangkan sebagai permata Banua dari keilmuan sidin (beliau),” ujarnya.
Dalam menghasilkan lukisan Datu Kalampayan, Muslim Anang melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber untuk membangun gambaran sosok yang dituangkannya ke dalam kanvas.
Ia mempelajari tulisan dan kitab karya Datu Kalampayan serta menggunakan sejumlah referensi visual dalam proses penciptaan karya.

“Waktu melukis sidin, kita pelajari dari tulisan-tulisan beliau. Selain itu, kita juga mencari referensi di Google dan media sosial, sehingga kita bisa membayangkan bagaimana wajahnya dari referensi yang kita dapat, dan jadilah lukisan yang kita pamerkan hari ini,” imbuhnya.
Selain karya terbaru yang dibuat pada 2026, pameran tersebut juga menampilkan sejumlah karya lama yang dibuat sejak 2018.
Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya mengangkat Datu Kalampayan, tetapi juga menghadirkan sosok Abah Guru Sekumpul, Agus Salim, serta sejumlah tokoh budaya, ulama, dan tokoh inspiratif lainnya.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Rizal Pahmi, mengapresiasi terselenggaranya pameran tunggal tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang bagi seniman untuk menunjukkan karya sekaligus mendorong seniman lainnya agar lebih aktif berkegiatan di Taman Budaya.
“Alhamdulillah, karya-karya Pak Anang kali ini kita sangat mengapresiasi kegiatan beliau di UPT Taman Budaya. Sehingga ini memberikan motivasi kepada seniman-seniman lain untuk berkegiatan di UPTD Taman Budaya ini,” ujar Rizal.
Ia menegaskan Taman Budaya Kalsel akan terus menyediakan ruang bagi seniman untuk menampilkan karya kepada masyarakat.
“Tentunya di Taman Budaya akan selalu memberikan ruang dan panggung kepada seniman-seniman lain, memberikan mereka tempat, sehingga kegiatan-kegiatan ini bisa teragenda di UPT Taman Budaya,” tambahnya.

Menurut Rizal, pameran juga terbuka bagi masyarakat umum. Pelajar dari sejumlah sekolah turut dilibatkan agar dapat melihat dan mengapresiasi karya seni secara langsung.
“Kemarin Pak Anang juga mengundang anak-anak dari sejumlah sekolah untuk melihat karya seni lukis yang beliau tampilkan,” jelasnya.
Keterlibatan pelajar menjadi salah satu bagian penting karena karya yang dipamerkan dapat menjadi media alternatif untuk mengenalkan kembali tokoh dan perjalanan kebudayaan Banua kepada generasi muda.

Melalui lukisan, kisah mengenai tokoh agama, budaya, dan tokoh inspiratif dapat dihadirkan dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan masyarakat.
Bagi Muslim Anang Abdullah, pameran tersebut juga menjadi bagian dari upaya merawat ingatan tentang tokoh dan kebudayaan Banua. Karya seni tidak hanya menjadi ekspresi personal perupa, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan gagasan dan nilai yang ingin diwariskan kepada masyarakat.
Melalui “Intan Banua”, masyarakat diharapkan dapat mengenal lebih dekat sosok para ulama dan tokoh Banua serta mengambil keteladanan dari perjalanan hidup mereka.


