Sampah Organik di Wonorejo Turun 20 Persen, Kades Sebut Program KKN ULM Bawa Perubahan
Banua TV, Tanah Bumbu – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (KKN ULM) di Desa Wonorejo, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, mulai membawa perubahan dalam kebiasaan masyarakat mengelola sampah.


Program yang dijalankan mahasiswa dinilai tidak hanya memperkenalkan teknik pengolahan sampah, tetapi juga perlahan mengubah cara pandang warga terhadap limbah rumah tangga.
Kepala Desa Wonorejo, Sadi, menyebut program mahasiswa memiliki keterkaitan erat dengan kondisi desa yang sebelumnya telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
“Program anak-anak KKN ini sangat sinkron dengan kegiatan di desa kami. Wonorejo sudah memiliki TPS 3R, sehingga inovasi yang mereka bawa menjadi pelengkap bagi sistem yang ada. Alhamdulillah hasilnya bagus, bahkan budidaya maggot yang mereka kembangkan sudah menunjukkan perkembangan positif,” ujar Sadi.
Menurut Sadi, keberadaan TPS 3R membuat inovasi yang dibawa mahasiswa lebih mudah diterapkan karena desa telah memiliki sistem dasar pengelolaan sampah.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah budidaya maggot sebagai bagian dari pemanfaatan sampah organik. Pengembangan tersebut dinilai mulai menunjukkan hasil positif dan berpotensi terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir.
Namun, bagi pemerintah desa, perubahan paling penting bukan hanya terletak pada teknologi yang digunakan. Justru perubahan kebiasaan masyarakat menjadi tantangan sekaligus hasil yang paling terasa.
Sadi mengatakan, selama mahasiswa berada di Wonorejo, warga mulai terbiasa melakukan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.
Perubahan tersebut bahkan menjadikan dua RT sebagai wilayah percontohan dalam pemilahan sampah organik dan anorganik.
Dampaknya mulai terlihat pada volume sampah yang masuk ke TPS 3R. Sampah organik yang sebelumnya cukup banyak kini berkurang hingga sekitar 20 persen.
“Dengan datangnya mereka, masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Setelah mahasiswa pulang, tinggal kami melanjutkan program ini ke RT lain,” jelasnya.
Keberhasilan tersebut membuka peluang bagi pemerintah desa untuk memperluas penerapan pemilahan sampah ke lingkungan RT lainnya.
Artinya, program KKN tidak berhenti sebagai kegiatan mahasiswa selama berada di desa, tetapi diharapkan dapat menjadi kebiasaan baru yang terus dijalankan masyarakat.
Antusiasme warga terhadap keberadaan mahasiswa juga menjadi catatan tersendiri. Menurut Sadi, masyarakat tidak hanya mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menunjukkan kedekatan dengan para mahasiswa.
Bahkan, warga meminta mahasiswa untuk kembali hadir dalam kegiatan yasinan di sejumlah RT berikutnya.
Interaksi tersebut membuat keberadaan mahasiswa semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari pertemuan dan kegiatan bersama itulah muncul dampak lain yang tidak berkaitan langsung dengan program lingkungan.
Kehadiran mahasiswa ternyata turut memberikan motivasi kepada anak-anak dan remaja di Desa Wonorejo untuk mengenal dunia perguruan tinggi.
“Mahasiswa bukan hanya mengajarkan pengelolaan sampah, tetapi juga memberi inspirasi bagi anak-anak SMP dan SMA untuk kuliah,” katanya.
Bagi Sadi, hal tersebut menjadi salah satu nilai penting dari kehadiran mahasiswa KKN. Pengetahuan yang dibawa tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, tetapi juga membuka wawasan generasi muda desa mengenai pentingnya pendidikan tinggi.
Pemerintah Desa Wonorejo sendiri memberikan dukungan terhadap pelaksanaan KKN. Dukungan tersebut dilakukan melalui penyediaan posko hingga kebutuhan pangan mahasiswa selama menjalankan program di desa.
Sadi menilai dukungan tersebut merupakan bagian dari kepedulian pemerintah desa terhadap mahasiswa yang sedang menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat.
“Bagaimanapun juga mereka adalah anak-anak kita. Kehadiran saya di setiap kegiatan hanya untuk memberikan semangat dan motivasi,” tutupnya.
Program KKN ULM di Desa Wonorejo akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar kegiatan pengelolaan sampah. Perubahan kebiasaan warga, penurunan sampah organik, berkembangnya budidaya maggot hingga tumbuhnya motivasi anak muda untuk melanjutkan pendidikan menjadi bagian dari dampak yang diharapkan dapat terus dijaga.
Setelah masa KKN berakhir, pemerintah desa dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan kebiasaan tersebut dan memperluas pemilahan sampah ke RT lainnya.
Dengan dukungan masyarakat dan keberadaan TPS 3R, inovasi yang telah diperkenalkan mahasiswa diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan lingkungan Desa Wonorejo secara berkelanjutan.


