Angkringan British, Inovasi Edukasi Berbasis UMKM yang Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Masyarakat Balangan
Banua Tv,Balangan – Kabupaten Balangan kembali menghadirkan inovasi daerah melalui Angkringan British, sebuah konsep pembelajaran bahasa Inggris yang memadukan edukasi dengan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program yang resmi diluncurkan pada 2 Januari 2024 ini mengusung slogan “Eat, Chill, Learn” sebagai ruang belajar yang santai, interaktif, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Inovator Angkringan British, Annisa Norrahmah, mengatakan inovasi tersebut lahir sebagai solusi atas masih rendahnya kemampuan bahasa Inggris masyarakat di Kabupaten Balangan.
Menurutnya, keterbatasan waktu belajar di sekolah, minimnya kesempatan praktik, tingginya biaya kursus, serta anggapan bahwa bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang sulit menjadi alasan utama lahirnya konsep pembelajaran nonformal tersebut.
“Melalui pendekatan nonformal, Angkringan British berupaya mengubah paradigma tersebut dengan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan aplikatif,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Keunikan Angkringan British terletak pada perpaduan antara kegiatan kuliner UMKM dengan pembelajaran bahasa Inggris. Masyarakat tidak hanya dapat mengikuti Free English Class gratis setiap hari Minggu, tetapi juga mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris secara langsung saat melakukan transaksi jual beli pada hari Jumat dan Minggu.
Pendekatan experiential learning yang diterapkan membuat proses belajar terasa lebih alami sekaligus meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam menggunakan bahasa Inggris di kehidupan sehari-hari.
Selain kelas belajar, Angkringan British juga menghadirkan berbagai inovasi pendukung, seperti penggunaan nama menu berbahasa Inggris, penerapan British Card sebagai kartu identitas sekaligus potongan harga, hingga kolaborasi dengan pelaku UMKM lokal.
Menurut Annisa, konsep tersebut tidak hanya memperluas akses pembelajaran, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan bahan baku lokal, sistem konsinyasi dengan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja bagi mahasiswa dan ibu rumah tangga.
“Selain memperluas akses pembelajaran, inovasi ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penggunaan bahan baku lokal, sistem konsinyasi dengan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja bagi mahasiswa dan ibu rumah tangga. Hasilnya, usaha ini berhasil mencapai Break Even Point (BEP) hanya dalam waktu sekitar dua bulan sejak beroperasi,” ungkapnya.
Sejak diluncurkan, Angkringan British telah memberikan manfaat kepada lebih dari 600 peserta melalui program Free English Class, praktik transaksi menggunakan bahasa Inggris, serta berbagai kegiatan edukasi berbasis UMKM.
Annisa berharap inovasi ini mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap pembelajaran bahasa Inggris.
“Kami ingin menghilangkan anggapan bahwa belajar bahasa Inggris itu sulit dan hanya bisa dilakukan di ruang kelas. Melalui Angkringan British, masyarakat dapat belajar sambil menikmati suasana yang santai, berinteraksi secara langsung, sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM lokal. Harapan kami, semakin banyak masyarakat yang berani menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari karena belajar akan terasa lebih mudah ketika dipraktikkan langsung,” tuturnya.
Ke depan, Angkringan British diharapkan terus berkembang sebagai inovasi yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menjadi contoh sinergi antara pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan inovasi daerah di Kabupaten Balangan.


