Hj. Fathul Jannah Muhidin Ajak Lestarikan Kebaya dan Sasirangan sebagai Identitas Bangsa dan Banua
in , , ,

Hj. Fathul Jannah Muhidin Ajak Lestarikan Kebaya dan Sasirangan sebagai Identitas Bangsa dan Banua

Hj. Fathul Jannah Muhidin Ajak Lestarikan Kebaya dan Sasirangan sebagai Identitas Bangsa dan Banua

Banua Tv,Banjarmasin – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Fathul Jannah Muhidin, mengajak masyarakat untuk terus melestarikan kebaya dan kain sasirangan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa sekaligus kebanggaan Banua. Ajakan tersebut disampaikannya saat menghadiri Seminar Peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 di Hotel Roditha, Banjarmasin, Selasa (21/7/2026).

~ Advertisements ~

Tampil anggun mengenakan kebaya biru tua yang dipadukan dengan kain sasirangan khas Kalimantan Selatan berhias payet, Hj. Fathul Jannah Muhidin menunjukkan bahwa kebaya dan sasirangan bukan sekadar busana, melainkan simbol kecintaan terhadap budaya sekaligus representasi jati diri bangsa dan daerah.

Seminar yang diselenggarakan melalui kolaborasi TP PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Kalimantan Selatan tersebut diikuti berbagai organisasi perempuan se-Kalsel, di antaranya Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Dharma Wanita Persatuan, serta TP PKK kabupaten/kota.

Dalam sambutannya, Hj. Fathul Jannah Muhidin mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan seminar sebagai rangkaian peringatan Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli.

Menurutnya, Hari Kebaya Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap kebaya sebagai identitas budaya bangsa yang sarat nilai sejarah, karakter, dan jati diri perempuan Indonesia.

“Hari Kebaya Nasional menjadi momentum bagi kita untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kebaya sebagai salah satu identitas budaya bangsa. Kebaya bukan hanya busana, tetapi juga simbol keanggunan, kesopanan, ketangguhan, dan jati diri perempuan Indonesia yang harus terus kita jaga, lestarikan, dan wariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Ketua TP PKK Provinsi Kalsel yang juga menjabat Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Selatan itu menjelaskan, penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk penghargaan negara terhadap kebaya sebagai warisan budaya bangsa. Ditambah lagi, pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO semakin memperkuat tanggung jawab seluruh elemen masyarakat untuk melestarikannya.

Ia menambahkan, bagi masyarakat Kalimantan Selatan, kebaya memiliki nilai yang semakin istimewa ketika dipadukan dengan kain sasirangan sebagai wastra khas Banua.

“Di Kalimantan Selatan, kebaya dapat dipadukan dengan kain sasirangan sebagai ciri khas daerah. Perpaduan ini tidak hanya melestarikan budaya kita, tetapi juga memperkuat identitas Kalimantan Selatan di tengah dinamika perkembangan zaman,” tuturnya.

Melalui seminar tersebut, Hj. Fathul Jannah Muhidin berharap para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah, makna, ragam kebaya, serta berbagai upaya pelestariannya sehingga tetap relevan dikenakan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya.

Ia juga menilai pelestarian kebaya dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang fesyen dan kriya berbasis budaya lokal.

Karena itu, TP PKK Provinsi Kalimantan Selatan bersama Dekranasda terus berkomitmen mendorong pengembangan UMKM melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, promosi, dan pemberdayaan agar para perajin semakin berkembang dan memiliki daya saing.

“Kami berharap momentum Hari Kebaya Nasional ini dapat menginspirasi seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin bangga mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan. Dengan demikian, kebaya tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga budaya yang terus hidup dan berkembang bersama masyarakat,” katanya.

Seminar menghadirkan narasumber Hj. Kathrin Ambarsari, seorang desainer fesyen dan pengamat mode asal Kalimantan Selatan, yang membahas sejarah, perkembangan, serta nilai budaya kebaya.

Kegiatan juga diramaikan dengan fashion show yang menampilkan perwakilan organisasi wanita dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Penampilan ditutup oleh Hj. Fathul Jannah Muhidin yang kembali memukau peserta dengan balutan kebaya biru tua berpadu kain sasirangan khas Banua.

Usai acara, Hj. Fathul Jannah Muhidin berharap momentum Hari Kebaya Nasional mampu mendorong perkembangan UMKM dan para perajin, khususnya di bidang fesyen kebaya dan wastra khas Banua.

“Mudah-mudahan ke depannya melalui momentum seperti ini dapat mendorong UMKM dan pengrajin kita, khususnya di bidang fesyen, dalam hal ini kebaya dan juga tentunya wastra khas Banua kita, kain sasirangan,” harapnya.

Ia juga berharap seminar tersebut menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan kesadaran generasi muda dan masyarakat agar semakin mencintai serta melestarikan kebaya dan kain sasirangan sebagai warisan budaya.

Tinggalkan Balasan

Petani Banjar Terima Puluhan Alsintan dari Pemkab Banjar

Gubernur H. Muhidin dan Hj. Fathul Jannah Meriahkan Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 Bersama Anak-Anak Banua